Bandung – Upaya menjaga kebersihan lingkungan terus digencarkan oleh Pemerintah Kota Bandung. Dalam aksi berskala besar yang dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, tercatat sebanyak 80 ton sampah berhasil diangkut hanya dalam satu hari dari Pasar Gedebage, salah satu pasar tradisional terbesar dan tersibuk di wilayah timur Bandung.
Langkah ini merupakan bagian dari program intensif Pemkot Bandung untuk mewujudkan pasar rakyat yang bersih, sehat, dan nyaman bagi pedagang maupun pengunjung. Volume sampah yang diangkut dalam sehari itu mengindikasikan betapa besarnya tantangan pengelolaan limbah di kawasan pasar tradisional, yang setiap hari melayani ribuan transaksi jual beli barang kebutuhan pokok.
“Pasar Gedebage adalah salah satu pusat ekonomi rakyat yang sangat aktif. Namun, tingginya aktivitas ini juga memicu volume sampah yang luar biasa besar. Oleh karena itu, kami kerahkan armada penuh untuk menangani pengangkutan secara cepat dan tuntas,” ujar Kepala DLH Kota Bandung, Dudi Prayudi, dalam keterangannya, Jumat (4/7).
Mayoritas Sampah Berupa Limbah Organik
Dari hasil pengangkutan, sekitar 70 persen sampah yang dihasilkan merupakan limbah organik, seperti sisa sayur, buah, dan makanan yang membusuk. Limbah ini, jika tidak segera ditangani, bisa menjadi sumber bau tak sedap, berkembangnya lalat, serta sarang penyakit yang membahayakan kesehatan masyarakat.
DLH mencatat bahwa selama musim hujan maupun kemarau, sampah organik yang menumpuk bisa memicu gangguan lingkungan serius, termasuk menyumbat saluran air, mempercepat kerusakan jalan, hingga menimbulkan potensi banjir lokal.
Sebagai solusi jangka panjang, DLH mendorong pemanfaatan bank sampah, kompos komunitas, dan program pemilahan dari sumber oleh para pedagang dan pengelola pasar.
Melibatkan Semua Pihak: Tak Cukup Andalkan Petugas
DLH menggarisbawahi bahwa pembersihan fisik saja tidak akan menyelesaikan persoalan sampah jika tidak diimbangi dengan perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, edukasi dan pelibatan aktif para pedagang, pengunjung pasar, serta pihak pengelola menjadi fokus utama DLH dalam program keberlanjutan pasar bersih.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan armada pengangkut sampah. Yang terpenting adalah membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan pasar adalah tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pemerintah,” tambah Dudi.
DLH juga secara rutin melakukan sosialisasi dan kampanye pasar bebas sampah, termasuk pelatihan pemilahan dan penanganan limbah berbasis komunitas kepada pedagang pasar.
Pasar Gedebage: Vital, Tapi Rentan
Sebagai salah satu pasar tradisional terbesar di Jawa Barat, Pasar Gedebage menampung ribuan pedagang dan pembeli setiap harinya. Sayangnya, infrastruktur kebersihannya belum sepenuhnya memadai untuk menangani limbah sebesar itu.
Pemerintah kota tengah menjajaki rencana revitalisasi sistem pengelolaan sampah pasar, termasuk penambahan tempat pembuangan sementara (TPS), peningkatan fasilitas angkut, dan pembuatan sistem pengolahan limbah terpadu.
“Kalau pasar ini ingin terus berkembang, maka aspek kebersihannya harus diperhatikan. Kami pedagang juga ingin tempat jualan kami bersih dan nyaman,” ungkap Ahmad, salah satu pedagang sayur di Gedebage.
Dukungan Warga dan Harapan Berkelanjutan
Warga sekitar dan pembeli yang rutin datang ke pasar Gedebage menyambut baik langkah DLH. Banyak di antara mereka yang mengaku kini merasa lebih nyaman saat berbelanja, meski masih berharap ada perbaikan di sisi fasilitas dan konsistensi kebersihan.
“Biasanya bau banget dan banyak lalat, sekarang sudah agak mendingan. Tapi semoga ini bukan cuma sesekali aja,” kata Ibu Rina, warga Kiaracondong.
Langkah cepat dan masif DLH Kota Bandung dalam mengangkut 80 ton sampah dari Pasar Gedebage menunjukkan bahwa komitmen terhadap lingkungan bersih bukan sekadar wacana. Namun, kerja kolektif semua pihak—mulai dari pemerintah, pedagang, hingga masyarakat—menjadi kunci untuk mewujudkan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
