Tasikmalaya – Saat sebagian besar masyarakat mulai melupakan masa-masa kelam pandemi COVID-19, enam gang kecil di Tasikmalaya justru masih menyimpan jejak kuat dari peristiwa bersejarah itu. Bukan sekadar gang biasa, lorong-lorong sempit ini menjadi saksi bisu perjuangan warga bertahan hidup di tengah krisis kesehatan global yang melanda dunia.
Mural-mural bergambar tenaga medis, pesan peringatan bertuliskan “Zona Merah”, hingga coretan doa dan semangat bertahan, masih terpampang jelas di dinding-dinding rumah warga. Jejak-jejak ini bukan hanya hiasan, melainkan memori kolektif tentang masa ketika isolasi, kekhawatiran, dan kebersamaan menjadi keseharian.
Salah satu gang berada di kawasan Kecamatan Cipedes. Di sana, warga menciptakan sistem lockdown mandiri, menutup akses gang dengan portal sederhana dari bambu. Mereka melukis dinding dengan simbol larangan masuk, demi menjaga keselamatan lingkungan.
“Waktu itu kami benar-benar takut. Jadi gang ini ditutup total, hanya warga yang bisa masuk. Yang jualan juga nggak bisa sembarangan. Semua gotong royong,” kata Asep (45), warga setempat.
Gang lain di daerah Tawang menyimpan mural tangan berwarna merah yang menggambarkan penolakan terhadap kerumunan. Di salah satu dinding, tertulis pesan sederhana namun menggetarkan: “Jangan Masuk, Lindungi Ibu Kami yang Sudah Tua.”
Tak sedikit warga yang berinisiatif membuat tulisan tangan dan gambar sederhana sebagai bentuk edukasi sekaligus peringatan. Meski kini pandemi telah mereda, coretan dan mural itu masih dibiarkan utuh. Alasannya sederhana: agar generasi berikutnya tahu dan belajar dari masa sulit yang pernah terjadi.
Menurut Deden Rahmat, seorang pegiat komunitas seni mural di Tasikmalaya, gang-gang tersebut kini ibarat museum jalanan. Tak ada tiket masuk, tapi setiap orang bisa menyerap makna dari dinding-dinding yang berbicara.
“Itu karya spontan warga. Bukan pesanan pemerintah. Justru di situlah nilai sejarahnya. Gang-gang ini merekam rasa takut, harapan, dan kekuatan kolektif,” ujar Deden.
Pemerintah Kota Tasikmalaya pun mengapresiasi inisiatif warga yang secara tidak langsung turut mendokumentasikan masa pandemi. Ke depan, gang-gang tersebut akan dijadikan bagian dari kampanye edukasi dan literasi sejarah lokal.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan Kota Tasikmalaya menyatakan bahwa pihaknya sedang merancang program yang melibatkan warga untuk merawat dan menarasikan ulang memori tersebut.
“Pandemi adalah bagian dari sejarah kita. Gang-gang ini bisa menjadi pengingat bahwa kita pernah melewati masa sulit, dan bangkit bersama,” ujarnya.
Kini, enam gang di Tasikmalaya bukan hanya jalan setapak biasa, tapi lorong kenangan yang menyimpan cerita tentang solidaritas, rasa takut, dan kekuatan manusia bertahan dalam situasi krisis.
