Bandung, HarianJabar.com – Fenomena menurunnya jumlah murid di sejumlah Sekolah Dasar (SD) di Kota Bandung kembali menjadi sorotan. Beberapa sekolah bahkan hanya menerima kurang dari 10 murid baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2025/2026. Menyikapi hal ini, para pakar pendidikan memberikan sejumlah saran strategis untuk menjawab tantangan sekolah dengan jumlah siswa yang minim.
Menurut Dr. Irma Lestari, M.Pd, pakar pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kondisi ini merupakan akumulasi dari beberapa faktor, mulai dari penurunan angka kelahiran, persebaran penduduk yang tidak merata, hingga kecenderungan orang tua memilih sekolah swasta atau sekolah negeri unggulan di luar zona tempat tinggal mereka.
“Kita harus akui bahwa sekolah-sekolah tertentu semakin ditinggalkan karena dianggap kurang berkualitas. Tapi ini juga tanggung jawab pemerintah untuk memetakan ulang zonasi dan meningkatkan daya tarik sekolah-sekolah tersebut,” ujarnya, Rabu (9/7).
Evaluasi Zonasi dan Peningkatan Mutu Sekolah
Dr. Irma menyarankan agar Dinas Pendidikan Kota Bandung melakukan evaluasi sistem zonasi yang berlaku saat ini. Ia menilai, banyak orang tua yang sengaja memalsukan domisili atau memilih sekolah di luar zona karena menganggap sekolah di zona mereka tidak mampu memberikan pendidikan terbaik.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peningkatan mutu sekolah yang sepi peminat, baik dari sisi tenaga pendidik, fasilitas, hingga program unggulan.
“Sekolah yang sepi murid harus diberi insentif, misalnya penambahan guru berprestasi, program ekstrakurikuler menarik, atau kerja sama dengan lembaga pendidikan lain. Sekolah harus punya nilai jual,” tambahnya.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Pakar lain, Prof. Dede Kurniawan, Ed.D, menyoroti peran komunitas dalam menghidupkan kembali sekolah-sekolah dasar yang minim murid. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat sangat penting untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap sekolah di lingkungan sendiri.
“Kalau orang tua saja enggan menyekolahkan anaknya di lingkungan sekitar, maka sekolah akan terus kehilangan fungsinya sebagai pusat pembelajaran komunitas,” jelasnya.
Langkah Pemerintah Kota
Menanggapi hal ini, Dinas Pendidikan Kota Bandung mengaku telah memetakan sekolah-sekolah yang kekurangan siswa dan tengah menyusun strategi jangka pendek dan panjang, termasuk kemungkinan penggabungan (merger) beberapa SD dalam satu wilayah.
“Kami tidak ingin ada guru yang tidak punya murid, atau fasilitas yang tidak digunakan. Tapi kami juga tidak ingin buru-buru menutup sekolah tanpa solusi konkret,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Hj. Nani Suryani, S.Pd., M.M.
