Bandung – Peredaran beras oplosan di sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung menimbulkan keresahan di kalangan pedagang dan masyarakat. Pasalnya, meski telah ramai diberitakan sebagai produk bermasalah, beras oplosan tersebut belum juga ditarik dari peredaran. Sejumlah pedagang pun mulai curiga dan menduga adanya unsur pembiaran oleh pihak terkait.
“Sudah dari minggu lalu kami dengar kabarnya. Tapi berasnya masih dijual dan beredar seperti biasa. Ini aneh, biasanya kalau ada masalah langsung ditarik,” ujar salah satu pedagang di Pasar Induk Gedebage, Bandung, yang enggan disebutkan namanya.
Pedagang lain mengungkapkan kekhawatirannya karena mereka merasa berada di posisi sulit. Di satu sisi, mereka hanya menjual barang yang didistribusikan oleh pemasok resmi. Namun di sisi lain, mereka yang berhadapan langsung dengan konsumen dan menanggung risiko bila ada keluhan atau sanksi.
“Kami hanya menjual, tidak tahu kalau ternyata itu oplosan. Kalau nanti ada tindakan, yang ditindak siapa? Kami yang di lapangan,” keluh seorang pedagang di Pasar Sederhana.
Apa Itu Beras Oplosan?
Beras oplosan adalah beras campuran yang menggabungkan beras berkualitas rendah dengan beras bagus, atau bahkan bahan tambahan seperti pemutih agar terlihat lebih bersih. Beras ini sering dikemas ulang dalam karung bermerek premium, sehingga dijual dengan harga lebih tinggi dari seharusnya.
Menurut pakar pangan, praktik ini sangat merugikan konsumen secara ekonomi dan kesehatan. Konsumen tertipu kualitas dan berisiko mengonsumsi zat kimia berbahaya jika beras telah diproses secara ilegal.
Dugaan Pembiaran dan Minimnya Tindakan
Yang menjadi sorotan adalah lambannya respon dari pihak berwenang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah tegas dari Dinas Perdagangan, Satgas Pangan, atau otoritas distribusi yang terlihat menarik produk dari pasar atau memberikan klarifikasi kepada publik.
Hal ini memicu spekulasi di kalangan pedagang, bahwa ada kemungkinan pembiaran atau kelalaian dalam proses pengawasan. Jika tidak segera ditindak, bukan tidak mungkin kasus ini bisa berdampak besar, apalagi menjelang momentum kenaikan harga pangan di musim kering.
“Kalau memang itu beras bermasalah, harusnya ditarik secepatnya. Jangan sampai masyarakat yang jadi korban,” tegas salah satu pembeli yang ditemui harianjabar.com di lokasi pasar.
Masyarakat Diminta Lebih Waspada
Sejumlah lembaga konsumen mengimbau masyarakat untuk lebih jeli dalam membeli beras. Ciri-ciri beras oplosan bisa dikenali dari warna yang terlalu putih mencolok, bau tidak alami, atau tekstur yang kasar. Jika menemukan indikasi kecurangan, masyarakat diminta melapor ke dinas terkait atau layanan pengaduan pangan resmi.
