Yerusalem, 21 Juli 2025 — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena kebijakan luar negeri atau strategi keamanan, melainkan karena absennya dari persidangan kasus korupsi yang tengah menjeratnya. Alasan ketidakhadiran kali ini pun tergolong mengejutkan: keracunan makanan basi.
Menurut keterangan resmi dari Kantor Perdana Menteri, Netanyahu mengalami gangguan kesehatan serius usai menyantap makanan yang diduga sudah tidak layak konsumsi. Akibatnya, ia mengalami mual hebat, muntah, dan dehidrasi yang memaksanya untuk menjalani perawatan intensif dan beristirahat total selama setidaknya dua hari.
“Perdana Menteri saat ini dalam pengawasan tim dokter dan tidak dalam kondisi untuk mengikuti proses persidangan,” tulis pernyataan dari juru bicara pemerintah.
Sidang Ditunda, Tuduhan “Main Sakit” Menguat
Absennya Netanyahu terjadi di tengah sidang penting terkait tiga kasus besar yang menuduh dirinya melakukan penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, dan suap. Kasus tersebut melibatkan konglomerat media dan pengusaha besar, yang disebut memberikan berbagai keuntungan kepada Netanyahu sebagai imbalan atas kebijakan atau perlakuan khusus dari pemerintah.
Penundaan ini menuai reaksi keras dari oposisi dan kelompok sipil di Israel. Mereka menilai bahwa alasan kesehatan kembali dijadikan alat untuk memperlambat jalannya proses hukum.
“Sudah berkali-kali sidang ditunda karena alasan yang tidak masuk akal. Ini mencederai kepercayaan publik terhadap hukum,” ujar Tamar Zandberg, anggota parlemen dari partai oposisi Meretz.
Di media sosial, tagar seperti #NetanyahuSakitLagi dan #JusticeDelayed menjadi trending topic, mencerminkan keresahan publik terhadap proses hukum yang dianggap tidak adil dan terlalu memihak pada elite kekuasaan.
Kasus Korupsi Netanyahu: Sejarah yang Belum Usai
Netanyahu telah menghadapi sorotan tajam sejak 2019 ketika penyelidikan kasus korupsinya diumumkan. Ia didakwa secara resmi pada tahun 2020 dalam tiga kasus berbeda:
- Kasus 1000: Dugaan penerimaan hadiah mewah dari pengusaha kaya.
- Kasus 2000: Dugaan permufakatan dengan pemilik surat kabar Yedioth Ahronoth untuk pemberitaan yang menguntungkan.
- Kasus 4000: Tuduhan memberi perlakuan istimewa kepada perusahaan telekomunikasi Bezeq, yang dimiliki oleh sahabat dekatnya.
Meski telah menghadapi proses hukum selama bertahun-tahun, Netanyahu masih menjabat sebagai perdana menteri, menjadikannya satu-satunya kepala pemerintahan aktif di Israel yang pernah didakwa secara pidana.
Dampak Politik dan Kepercayaan Publik
Ketidakhadiran Netanyahu di persidangan dinilai memperburuk krisis kepercayaan publik terhadap institusi hukum dan politik di Israel. Banyak pihak mempertanyakan, apakah sistem hukum di Israel cukup kuat untuk mengadili seorang kepala pemerintahan yang sangat berpengaruh?
Sementara itu, koalisi pendukung Netanyahu tetap membela sang perdana menteri. Mereka menyebut kondisi kesehatan sebagai hal yang manusiawi dan menyerukan agar publik menghormati proses hukum yang masih berjalan.
Namun tekanan publik tampaknya tak bisa diredam. Lembaga-lembaga independen seperti Movement for Quality Government in Israel terus mendesak agar pengadilan mempercepat proses dan menghindari intervensi politik.
Jadwal Ulang dan Rencana Alternatif
Pengadilan Distrik Yerusalem menyatakan akan menjadwalkan ulang sidang setelah kondisi kesehatan Netanyahu membaik. Selain itu, opsi persidangan secara daring kembali dibahas untuk memastikan proses hukum tetap berjalan meskipun ada gangguan pada kehadiran fisik terdakwa.
Sementara itu, publik Israel dan dunia internasional terus menanti: apakah proses hukum ini akan menjadi momen bersejarah dalam demokrasi Israel, atau justru menambah daftar panjang ketidakpercayaan terhadap elite politik?
