TOKYO, 21 Juli 2025 – Partai baru di Jepang, Sanseito, semakin mencuri perhatian publik setelah pemilu Majelis Tinggi Jepang tanggal 20 Juli 2025, dengan berhasil memperoleh 14 kursi—sebuah lonjakan drastis dari sebelumnya hanya satu kursi di parlemen beranggotakan 248 kursi.
1. Kelahiran & Platform: Populisme “Japanese First” dengan Sentuhan YouTube
Didirikan pada era pandemi COVID-19 melalui saluran YouTube, Sanseito mengusung retorika populis “Japanese First”—menekankan nasionalisme, anti-imigrasi, dan resistensi terhadap globalisme. Pemimpinnya, Sohei Kamiya, terinspirasi oleh gaya politik Donald Trump, menjadikan strategi daring sebagai alat kampanye utama.
Sanseito menawarkan janji pemotongan pajak, peningkatan tunjangan anak, dan penghapusan dukungan sosial untuk warga asing. Meskipun kontroversial, pesan ini menarik bagi kelas pekerja muda Jepang yang jenuh dengan stagnasi ekonomi dan inflasi tinggi.
2. Hasil Pemilu: Lonjakan Kursi & Posisi Baru
Dari pemilu Juli 2025, Sanseito berhasil memperbesar kehadirannya menjadi 14 kursi di Majelis Tinggi, yang menurut proyeksi NHK bisa mencapai hingga 22 kursi. Ini menandai kemajuan signifikan dari sebelumnya hanya satu kursi.
Tak hanya itu, mereka juga telah mendapat representasi pertama di Dewan Metropolitan Tokyo pada Juni lalu, menandakan popularitas yang tumbuh dalam waktu singkat.
3. Konteks Politik: Kekalahan LDP-Komeito & Dampaknya
Koalisi yang dipimpin PM Shigeru Ishiba dari LDP bersama Komeito kehilangan mayoritas di Majelis Tinggi—gelombang besar pertama sejak 1955—sementara sebelumnya sudah kalah di Majelis Rendah pada 2024. Hasil ini memperlemah posisi kepemimpinan Ishiba dan memicu pertanyaan soal masa depan pemerintahannya.
Meski tetap bertahan di kursinya, Ishiba menghadapi tekanan untuk membentuk aliansi baru dan menghadapi negosiasi kebijakan domestik dan tarif perdagangan dengan AS, terutama menjelang tenggat tarif 25% pada 1 Agustus.
4. Mengapa Sanseito Bisa Meledak?
Beberapa faktor utama menguatkan posisi Sanseito:
- Keluhan publik terkait ekonomi lesu, inflasi tinggi dan pendapatan yang stagnan.
- Isu imigrasi meski bukan prioritas utama bagi pemilih, namun menjadi simbol ketidakpercayaan terhadap kebijakan elit politik.
- Jaringan daring yang kuat, dengan channel YouTube yang memiliki 400.000 pengikut—lebih banyak dari partai mapan seperti LDP.
5. Darah Muda dan Strategi Ekspansi
Sanseito mencatat dukungan kuat dari pemilih muda, khususnya laki-laki berusia 20–30 tahun. Dengan memasang kandidat perempuan—termasuk penyanyi populer “Saya”—Sanseito menunjukkan ambisi memperluas basis dukungan di Tokyo dan daerah lain.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Sanseito kini memiliki potensi untuk memperluas pengaruhnya di Majelis Rendah dan mendikte agenda kebijakan, terutama isu imigrasi dan kesejahteraan domestik. Namun, mereka juga menghadapi tantangan:
- Tuduhan xenofobia dan retorika ekstrem soal gender dan vaksin masih melekat pada reputasi mereka .
- Partai konservatif dan demokrat lain mungkin bersatu menyeimbangkan agenda radikal mereka.
- Ketergantungan LDP pada kompromi bisa menciptakan peluang bagi Sanseito namun juga kendala dalam meraih dukungan legislatif .
Sanseito telah muncul sebagai kekuatan baru yang mengguncang politik Jepang pasca pemilu Juli 2025 dengan slogan “Japanese First”. Partai ini berhasil memanfaatkan kekecewaan publik terhadap kepemimpinan pemerintah dalam masa krisis ekonomi, menetapkan isu imigrasi dan identitas nasional sebagai inti kampanye. Kini, popularitas mereka melegitimasi retorika yang dulu dianggap ekstrem, memicu konfigurasi politik baru yang menuntut perhatian serius dari partai lama dan pemangku kepentingan.
