Jakarta — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada awal pekan ini, Senin (28/7), di level Rp16.327 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.
Data Bloomberg mencatat, rupiah sempat dibuka di level Rp16.320 per dolar AS dan bergerak melemah seiring pembukaan pasar keuangan Asia. Meski demikian, pelemahan mata uang Garuda masih tergolong terbatas dan cenderung stabil dibanding pekan lalu.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya menjelang pengumuman kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan pekan ini. Pelaku pasar menantikan sinyal suku bunga acuan apakah akan kembali ditahan atau diturunkan.
“Investor cenderung wait and see. Jika The Fed memberikan sinyal dovish (pelonggaran), maka ini bisa menjadi angin segar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” kata Josua dalam keterangannya.
Selain faktor eksternal, kondisi dalam negeri juga menjadi perhatian. Data neraca perdagangan dan inflasi dalam negeri yang akan dirilis dalam waktu dekat diperkirakan turut mempengaruhi arah rupiah. Sejauh ini, Bank Indonesia (BI) tetap konsisten menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan penguatan fundamental domestik.
Analis pasar uang dari PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menambahkan bahwa pelemahan ini masih dalam batas wajar, mengingat volatilitas global yang belum mereda. “Rupiah bergerak terbatas. Selama tidak menembus Rp16.400, maka level ini masih dianggap stabil dalam jangka pendek,” ujarnya.
Bank Indonesia dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas, terutama dengan memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter untuk meredam tekanan eksternal.
