Jakarta, Harianjabar.com— Batuk dan pilek merupakan keluhan yang umum dialami anak-anak, terutama saat cuaca tidak menentu atau musim pancaroba. Namun, dokter anak mengingatkan para orangtua untuk tidak sembarangan memberikan obat batuk dan pilek kepada anak tanpa memahami terlebih dahulu jenis dan penyebab gejalanya.
Dokter spesialis anak, dr. Tiara Sari, Sp.A, menjelaskan bahwa tidak semua batuk atau pilek membutuhkan pengobatan dengan obat-obatan yang dijual bebas di apotek.
www.service-ac.id
“Banyak orangtua yang langsung panik dan buru-buru membeli obat batuk pilek saat anaknya flu ringan. Padahal, sebagian besar batuk dan pilek pada anak disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam beberapa hari,” jelasnya, Selasa (30/7).
Ia menambahkan, penggunaan obat secara tidak tepat berisiko menyebabkan efek samping, terutama pada anak usia di bawah lima tahun. Beberapa kandungan obat bisa menyebabkan kantuk berlebihan, jantung berdebar, atau bahkan gangguan pernapasan jika dikonsumsi tanpa pengawasan medis.
Kenali Jenis Batuk dan Pilek Anak
Dokter Tiara menyarankan agar orangtua terlebih dahulu mengamati gejala yang dialami anak, seperti:
- Apakah batuknya berdahak atau kering
- Apakah disertai demam tinggi
- Adakah sesak napas atau suara napas berat
- Seberapa lama batuk atau pilek berlangsung
“Jika batuk berlangsung lebih dari 5 hari, disertai demam tinggi atau napas anak terlihat berat, segera bawa ke dokter. Jangan hanya mengandalkan obat warung,” tegasnya.
Penanganan Rumahan dan Pencegahan
Selain obat, dokter menyarankan langkah-langkah alami untuk membantu meredakan gejala batuk pilek ringan pada anak, seperti:
- Memberikan cukup cairan (ASI, air putih, atau sup hangat)
- Menggunakan humidifier di kamar anak
- Menjaga kebersihan tangan dan lingkungan
- Menghindari paparan asap rokok dan debu
Penting juga bagi orangtua untuk tidak memaksa anak mengonsumsi obat tanpa tahu fungsinya. Sebaiknya, konsultasikan dulu ke dokter, apalagi untuk anak di bawah usia 6 tahun.
Batuk pilek memang hal yang sering terjadi, tapi penanganannya tidak boleh dianggap remeh. Langkah terbaik adalah memahami gejala, memberikan perawatan suportif di rumah, dan membawa anak ke fasilitas kesehatan jika kondisi tidak membaik.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Dan kalau pun harus mengobati, pastikan tahu apa yang sedang kita obati,” tutup dr. Tiara.
