Jakarta, HarianJabar.com 2 Agustus 2025 — Masyarakat dan pedagang di berbagai daerah mengeluhkan kenaikan harga beras yang terus terjadi meski stok beras di tingkat nasional dilaporkan melimpah. Keluhan ini memicu keresahan terutama bagi keluarga berpendapatan rendah yang sangat bergantung pada bahan pokok ini.
Keluhan ini juga didukung oleh laporan dari pedagang pasar tradisional yang mengaku harga di tingkat distributor semakin mahal, sementara pembeli terus menjerit menanggung beban biaya hidup.

Stok Melimpah, Mengapa Harga Justru Naik?
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Bapak Suryanto, memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Menurutnya, ada beberapa faktor yang mempengaruhi harga beras, meskipun pasokan terlihat cukup.
“Stok beras memang melimpah secara nasional, tetapi distribusi belum merata. Selain itu, biaya logistik dan transportasi yang naik mempengaruhi harga di tingkat pedagang,” jelas Suryanto.
Faktor Distribusi dan Biaya Operasional Jadi Penyebab Utama
Menurut KTNA, kendala utama terjadi pada jalur distribusi, terutama di wilayah terpencil yang memerlukan biaya ekstra untuk pengiriman. Kenaikan harga bahan bakar dan tarif angkut menjadi faktor yang memperberat biaya bagi pedagang.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar juga mempengaruhi harga pupuk dan benih, yang berdampak pada biaya produksi petani, sehingga harga jual beras ke pedagang pun naik.
Respons Pemerintah dan Harapan Masyarakat
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian telah menyatakan akan terus memantau dan mengendalikan harga kebutuhan pokok agar tidak memberatkan masyarakat. Pemerintah juga berupaya memperbaiki sistem distribusi dan mengawasi rantai pasok.
Warga berharap agar harga beras bisa kembali stabil dan terjangkau, mengingat beras adalah makanan pokok utama.
