Jakarta, Harianjabar.com — Aksi demonstrasi yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir berdampak signifikan terhadap pusat perbelanjaan, khususnya di Jakarta. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat penurunan jumlah pengunjung mulai terasa sejak Jumat (29/8/2025), yang berimbas pada turunnya transaksi ritel.
Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, menjelaskan bahwa meski mal tetap berupaya beroperasi normal sebagai fasilitas publik, kondisi di lapangan memaksa sejumlah mal melakukan penyesuaian, termasuk kemungkinan penutupan sementara jika situasi keamanan tidak kondusif.
“Kami memahami pentingnya mal sebagai sarana layanan masyarakat, namun keselamatan pengunjung dan staf menjadi prioritas utama. Sejumlah pusat perbelanjaan harus menyesuaikan operasional agar tetap aman,” ujarnya, Senin (1/9).
Penurunan transaksi terlihat di berbagai sektor, terutama makanan, pakaian, dan hiburan. Tenant di beberapa mal besar mengaku mengalami penurunan omset hingga 50 persen dibanding periode normal.
Seorang pengunjung mal di Jakarta Selatan, Andi (28), mengatakan bahwa ia menghindari mal karena situasi demonstrasi yang tidak menentu.
“Biasanya saya datang akhir pekan untuk belanja dan hiburan, tapi sekarang saya takut kemacetan dan kericuhan,” ujarnya.

Pengamat ekonomi ritel, Dr. Rina Puspita, menilai bahwa dampak penurunan transaksi ini bersifat sementara dan terkait langsung dengan ketidakstabilan sosial.
“Ketika masyarakat khawatir akan keamanan, mobilitas menurun. Itu otomatis berdampak pada kunjungan ke mal dan omset tenant. Namun, begitu situasi kembali kondusif, sektor ritel biasanya cepat pulih,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi ini, APPBI mengimbau pengelola mal dan tenant untuk meningkatkan komunikasi dengan aparat keamanan setempat serta menyiapkan strategi mitigasi, seperti promosi daring dan pengaturan jam operasional lebih fleksibel.
Alphonzus menegaskan bahwa sektor ritel berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas sosial agar fasilitas publik seperti mal tetap dapat melayani masyarakat secara optimal.
“Keselamatan dan keamanan harus terjaga, sehingga masyarakat bisa tetap beraktivitas tanpa khawatir. Pemerintah dan aparat keamanan berperan penting dalam hal ini,” ujarnya.
Dengan langkah antisipatif ini, diharapkan penurunan transaksi tidak berlarut-larut dan sektor ritel dapat kembali normal setelah situasi demonstrasi mereda.
