Jakarta, 1 September 2025 — Padel, olahraga raket asal Meksiko, kini tengah menjadi primadona baru di kalangan masyarakat urban Indonesia. Dengan perpaduan antara tenis dan squash, padel menawarkan pengalaman bermain yang seru sekaligus bersifat sosial, sehingga makin digemari di kota-kota besar seperti Jakarta.
Padel dimainkan di lapangan berdinding dengan raket padat tanpa senar dan bola bertekanan rendah. Olahraga ini pertama kali ditemukan oleh Enrique Corcuera di Acapulco, Meksiko, pada tahun 1969. Sejak saat itu, padel berkembang pesat di Eropa, terutama di Spanyol, sebelum mulai merambah ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, padel diperkenalkan pada awal 2010-an melalui komunitas ekspatriat dari Spanyol dan Argentina. Kota Bali menjadi titik awal penyebarannya, kemudian Jakarta menjadi pusat pertumbuhan tercepat olahraga ini. Saat ini, sejumlah lapangan padel telah dibuka di berbagai pusat olahraga dan perumahan, memudahkan masyarakat urban untuk mencoba olahraga ini.

Selain sebagai aktivitas olahraga, padel juga dikenal sebagai gaya hidup sosial. Olahraga ini biasanya dimainkan secara beregu atau pasangan, sehingga mendorong kerja sama, komunikasi, dan interaksi antarpemain. Banyak penggemar padel memainkannya tidak hanya untuk berolahraga, tetapi juga untuk bersosialisasi dan bersenang-senang bersama teman atau keluarga.
Perkembangan pesat padel juga menarik perhatian Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) untuk menggelar turnamen lokal dan persiapan atlet nasional menghadapi kemungkinan padel masuk ke Olimpiade 2032 di Brisbane, Australia.
Dengan kombinasi keseruan, aspek sosial, dan prospek internasional, padel kini menjadi olahraga yang menarik minat kaum urban dan diprediksi akan terus berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
