Jakarta, HarianJabar.com – Siapa yang tidak suka seblak? Kudapan pedas khas Bandung ini memang menggoda lidah. Namun, siapa sangka, keseringan makan seblak justru bisa membawa masalah serius bagi kesehatan lambung. Hal ini dialami oleh seorang wanita berusia 21 tahun yang harus menghadapi diagnosis gastritis erosif akibat gaya hidup dan pola makan yang buruk.
Awal Mula: Seblak Jadi “Comfort Food”
Wanita muda ini, sebut saja R, mengaku mulai rutin mengonsumsi seblak sejak awal kuliah. Awalnya, ia hanya makan seblak seminggu sekali. Namun, seiring waktu, intensitasnya meningkat jadi dua kali sehari, terutama saat stres atau tidak sempat masak.

“Seblak itu praktis, murah, dan pedasnya bikin nagih. Apalagi kalau lagi suntuk atau lapar malam-malam,” ungkap R.
Ia pun mengakui bahwa dirinya jarang makan nasi, bahkan bisa berhari-hari hanya mengandalkan mie instan dan jajanan pedas seperti seblak, cireng, dan bakso aci.
Gejala yang Diabaikan: Sakit Perut Bukan Sekadar Masuk Angin
Gejala awal yang dirasakan R sebenarnya cukup umum—perut perih, mual setelah makan pedas, sering bersendawa, dan rasa begah. Ia sempat mengira itu hanya masuk angin biasa atau maag ringan.
Namun lama-kelamaan, rasa perih di ulu hati semakin menjadi, bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Saya sampai nggak bisa tidur karena perut sakit banget, rasanya panas,” katanya.
Diagnosis Mengejutkan: Gastritis Erosif
Setelah memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam dan menjalani endoskopi, R didiagnosis mengalami gastritis erosif, yaitu kondisi di mana lapisan lambung mengalami peradangan dan luka akibat iritasi berkepanjangan.
Dokter menjelaskan bahwa pemicu utamanya adalah konsumsi makanan pedas dan asam secara berlebihan, ditambah tidak makan makanan pokok bergizi secara teratur. Gaya hidup serba instan, kurang istirahat, dan stres pun turut memperparah kondisinya.
Apa Itu Gastritis Erosif?
Gastritis erosif merupakan jenis radang lambung yang cukup serius. Berbeda dari maag biasa, gastritis ini menyebabkan lapisan pelindung lambung terkikis, hingga muncul luka. Jika tidak ditangani, bisa berkembang menjadi tukak lambung bahkan perdarahan saluran cerna.
Gejalanya meliputi:
- Nyeri ulu hati
- Mual hingga muntah
- Perut terasa penuh meski belum makan banyak
- Nafsu makan menurun
- Feses berwarna hitam (tanda perdarahan)
Perubahan Hidup: Ucapkan Selamat Tinggal pada Seblak
Setelah mendapat pengobatan dan edukasi dari dokter, R mulai mengubah gaya hidupnya. Ia kini membatasi makanan pedas, kembali makan nasi dan lauk bergizi, serta lebih disiplin soal jam makan.
“Awalnya susah banget ninggalin seblak, tapi sekarang saya sadar, kesehatan lebih penting,” ujar R. Ia juga rajin mengonsumsi makanan yang ramah lambung seperti bubur, pisang, dan sayur bening.
Pesan Penting untuk Generasi Muda
Kisah R menjadi peringatan penting bagi generasi muda yang terbiasa hidup serba instan dan doyan makanan pedas. Kebiasaan makan tidak teratur, mengandalkan jajanan, dan melewatkan nasi bisa membawa dampak serius bagi kesehatan lambung.
Dokter menyarankan agar:
- Makan teratur 3x sehari
- Menghindari makanan terlalu pedas dan asam
- Mengurangi kafein dan soda
- Mengelola stres
- Tidur cukup dan tidak langsung tidur setelah makan
