Bogor, HarianJabar.com 5 September 2025 — Di balik deru mesin truk dan kepakan sayap ayam yang gelisah dalam kandang, ada ketegangan yang tak kasatmata di jalanan malam Cileungsi. Bukan karena ban pecah atau jalan berlubang—melainkan karena dua pria bermotor yang mengayunkan celurit, meminta uang dan ayam di tengah jalan gelap.
Bukan sekali. Empat kali. Dan semua menyasar sopir truk ayam yang hanya ingin mengantar muatannya sampai pasar.

“Tolong, Saya Hanya Cari Nafkah…”
Kalimat itu diucapkan lirih oleh salah satu sopir korban, saat celurit sudah nyaris menyentuh dashboard.
Dua pria, dikenal dengan inisial DA dan MD, beraksi secara berulang dengan pola yang sama:
- Mengintai truk ayam yang melintas sendirian.
- Memberhentikan paksa kendaraan.
- Satu mengacungkan celurit, satu lagi siap melarikan diri di atas motor.
- Lalu menodong sopir dengan permintaan: “Uang seratus ribu… dan ayam satu ekor!”
Teror kecil yang bagi sebagian orang mungkin dianggap receh—tapi bagi para sopir, itu ancaman nyata terhadap keselamatan mereka dan mata pencaharian mereka.
Polisi Gerak Cepat: 2 Ditangkap, 1 Masih Buron
Setelah laporan masuk ke Polsek Cileungsi, tim bergerak cepat.
Pada Kamis (4/9), DA dan MD berhasil diringkus di Desa Jatisari, Kecamatan Cileungsi, hanya beberapa jam setelah laporan terakhir. Dari tangan mereka, polisi menyita:
- Sebilah celurit tajam,
- Satu unit motor pelaku,
- Dan sejumlah obat tramadol yang diduga digunakan sebelum beraksi.
Satu pelaku lain berinisial A masih buron, dan kini masuk dalam daftar pencarian orang.
Modus Lama di Wajah Baru
Modus ini sejatinya bukan hal baru: intimidasi dengan senjata tajam terhadap pekerja jalanan. Namun yang membuatnya mencengangkan adalah konsistensi dan targetnya: sopir truk ayam, pekerja keras yang membawa pangan untuk kota.
“Kami sedang dalam tahap pemeriksaan lebih lanjut. Kasus ini masih kami kembangkan karena ada kemungkinan pelaku pernah beraksi di lokasi lain juga,” ujar Kapolsek Cileungsi, Kompol Zulkarnaen.
Jalanan Bukan Tempat untuk Teror
Peristiwa ini membuka mata banyak pihak bahwa jalur distribusi pangan—meski terlihat “biasa”—tetap butuh pengamanan dan perhatian. Bagi para sopir, pekerjaan bukan sekadar mengantar barang, tapi juga mempertaruhkan nyawa di setiap putaran roda.
