Garut, Harianjabar.com – Ratusan pelajar di Kabupaten Garut harus dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami gejala keracunan usai menyantap hidangan dari salah satu gerai makanan cepat saji berinisial MBG. Insiden ini menimbulkan kepanikan, terutama di kalangan orang tua murid, karena jumlah korban yang terdampak terus bertambah sejak laporan pertama diterima pada Minggu malam (15/9/2025).

Kronologi Keracunan Massal
Menurut informasi yang dihimpun, awal mula kasus terjadi setelah para pelajar menghadiri sebuah acara sekolah yang menyajikan makanan dari MBG. Menu yang disajikan berupa nasi kotak dengan lauk ayam goreng tepung, sayur capcay, sambal, dan minuman kemasan. Tidak lama setelah santapan tersebut dikonsumsi, banyak siswa mulai mengeluh sakit perut, mual, hingga muntah-muntah.
Hingga Senin siang, tercatat lebih dari 200 pelajar dari berbagai sekolah di Garut mendapatkan perawatan medis di Puskesmas maupun rumah sakit rujukan. Beberapa di antaranya bahkan harus mendapat infus karena kondisi tubuh yang lemas akibat kehilangan banyak cairan.
Dugaan Penyebab
Kepala Dinas Kesehatan Garut, dr. Lia Partiasih, menyebut pihaknya telah mengirim tim untuk mengambil sampel makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan massal.
“Saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratorium. Dugaan sementara ada kontaminasi bakteri pada makanan yang tidak disimpan dengan baik,” ujar Lia.
Selain itu, cuaca panas dan proses distribusi makanan dalam jumlah besar diduga mempercepat pertumbuhan bakteri.
“Makanan yang seharusnya langsung dikonsumsi mungkin terlalu lama tersimpan di suhu ruang,” tambahnya.
Respons Pemerintah dan Sekolah
Pemerintah Kabupaten Garut langsung bergerak cepat dengan membentuk tim khusus penanganan darurat. Bupati Garut, Rudy Gunawan, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam.
“Keselamatan anak-anak adalah prioritas. Kami akan pastikan penyebab kasus ini terungkap dan pihak terkait bertanggung jawab,” tegas Rudy.
Sementara itu, pihak sekolah yang terlibat dalam pemesanan makanan menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua siswa.
“Kami tidak pernah menyangka makanan yang dipesan akan berujung pada insiden ini. Kami juga mendampingi para korban hingga kondisi pulih,” kata salah satu kepala sekolah.
Kekhawatiran Warga
Orang tua siswa pun mengaku trauma atas kejadian ini. Beberapa bahkan menyatakan enggan lagi jika kegiatan sekolah menyediakan konsumsi dari katering tertentu tanpa pengawasan ketat.
“Saya harap ini jadi pelajaran bagi semua pihak. Jangan asal murah, tapi kualitas terabaikan,” ungkap Teti, orang tua salah satu korban.
Kasus Serupa di Indonesia
Keracunan massal akibat makanan katering bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Tahun lalu, ratusan warga di Jawa Tengah juga mengalami keracunan usai menghadiri hajatan dengan menu serupa. Kasus-kasus ini menjadi pengingat pentingnya standar keamanan pangan dan pengawasan distribusi makanan dalam jumlah besar.
Penyelidikan Berlanjut
Hingga berita ini diturunkan, kondisi sebagian besar siswa sudah mulai membaik meski masih ada yang menjalani perawatan intensif. Dinas Kesehatan berjanji akan merilis hasil uji laboratorium dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan sumber keracunan.
Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati memilih layanan katering, terutama untuk konsumsi massal anak-anak.
