Bandung, HarianJabar.com – Di sudut-sudut jalan perkotaan, masih bisa ditemui sosok sederhana dengan kotak perkakas kulit dan jarum besar di tangannya: tukang sol sepatu. Profesi yang dulu begitu dekat dengan masyarakat kini semakin jarang terlihat. Padahal, keberadaan mereka merupakan bagian dari bisnis hijau yang mendukung gerakan ramah lingkungan, karena memperpanjang umur pakai barang.
Namun, di tengah arus konsumerisme, profesi tukang sol kian tergerus. Budaya membeli yang baru lebih dipilih ketimbang memperbaiki. Akibatnya, banyak tukang sol kehilangan pelanggan dan perlahan-lahan gulung tikar.

Mengais Rezeki dari Sepatu Usang
Salah seorang tukang sol di kawasan Bandung, Asep (52), mengaku pendapatannya menurun drastis dalam lima tahun terakhir.
“Kalau dulu bisa dapat Rp150 ribu sampai Rp200 ribu sehari, sekarang kadang cuma Rp50 ribu. Orang lebih sering beli sepatu baru daripada diservis,” ungkapnya.
Dengan modal benang, jarum, lem, dan keterampilan turun-temurun, tukang sol seperti Asep sejatinya berperan penting dalam mengurangi limbah fesyen. Setiap sepatu yang diperbaiki berarti satu barang yang tidak langsung menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Bisnis Ramah Lingkungan
Aktivis lingkungan menilai, keberadaan tukang sol sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular: memperbaiki, menggunakan kembali, dan mengurangi limbah.
“Profesi tukang sol adalah contoh nyata ekonomi hijau, sayangnya mereka kalah oleh budaya konsumtif yang mengutamakan barang baru,” ujar Nurul Hidayati, pegiat lingkungan dari sebuah komunitas hijau di Jawa Barat.
Tergerus Konsumerisme
Fenomena fast fashion dan tren belanja daring dengan harga murah membuat masyarakat lebih mudah membeli sepatu baru dibandingkan memperbaiki yang lama.
“Kadang ongkos sol Rp30 ribu, tapi orang melihat di toko online ada sepatu baru Rp100 ribu. Mereka lebih memilih yang baru,” kata Asep pasrah.
Perlu Dukungan dan Kesadaran
Meski demikian, masih ada segelintir konsumen yang setia memperbaiki sepatunya. Bagi mereka, bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga sentimental.
“Sepatu ini pemberian almarhum ayah saya, jadi saya tetap perbaiki. Nilainya lebih dari sekadar harga,” ucap Dini, salah satu pelanggan.
Pemerhati budaya kota menilai perlu adanya kampanye kesadaran untuk kembali menghidupkan kebiasaan memperbaiki barang, bukan langsung membuangnya. Dengan begitu, profesi tukang sol tidak hanya bertahan, tapi juga menjadi bagian penting dari gaya hidup berkelanjutan.
Menjahit Harapan
Meski usianya kian menua, Asep masih setia dengan jarum dan benangnya.
“Selagi tangan ini kuat, saya akan terus nyol sepatu. Karena di sini, ada rezeki, ada cerita, dan ada kehidupan,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
