Pangandaran, HarianJabar.com – Pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menanggapi Surat Edaran (SE) Gerakan Sapoe Sarebu, menuai kritik dari tokoh masyarakat Pangandaran yang dikenal dengan julukan “Eceu Gacor”. Kritik tersebut terkait sikap Dedi yang dianggap kurang responsif terhadap aspirasi masyarakat di wilayah Pangandaran.
Gerakan Sapoe Sarebu sendiri merupakan inisiatif yang mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan aktif dalam pembangunan daerah, serta mendorong transparansi dan akuntabilitas pemerintah.
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa SE tersebut masih dalam tahap evaluasi dan dirinya membuka ruang dialog agar aspirasi masyarakat bisa terakomodasi dengan baik.
Namun, “Eceu Gacor” dari Pangandaran, yang dikenal vokal menyuarakan kepentingan warga, menyampaikan kritik pedas. Ia mempertanyakan apakah SE tersebut akan dicabut jika dirasa tidak efektif dan justru menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Kalau memang SE itu tidak membawa manfaat, ya cabut saja. Jangan sampai malah jadi beban masyarakat,” kata Eceu Gacor saat ditemui di Pangandaran, Rabu (8/10).
Dialog dan Klarifikasi Diperlukan
Menanggapi kritik tersebut, Dedi Mulyadi menekankan pentingnya dialog terbuka antara pihak-pihak terkait, termasuk masyarakat, untuk membahas keberlangsungan dan evaluasi Gerakan Sapoe Sarebu.
“Kami tidak ingin keputusan yang diambil justru menimbulkan ketidaknyamanan. Mari kita bersama-sama mencari solusi yang terbaik,” ujar Dedi.
Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Pajajaran Bandung, Dr. Wira Santosa, menilai bahwa dinamika seperti ini wajar dalam proses demokrasi dan pembangunan daerah.
“Kritik dan respons seperti ini adalah bagian dari mekanisme checks and balances yang sehat. Yang penting semua pihak berusaha membangun komunikasi yang konstruktif,” ujar Dr. Wira.
