Bandung, HarianJabar.com – Brigadir Popy Puspasari dan Bripda Fitria, dua polwan Polres Garut, melakukan aksi penyamaran yang luar biasa pada awal tahun 2018. Tugas mereka kali itu berbeda dari biasanya: bukan berseragam cokelat, melainkan menyamar sebagai pekerja seks komersial (PSK) untuk menelusuri dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Aksi penyamaran ini dilakukan atas perintah langsung Kapolres Garut melalui Kasatreskrim, setelah laporan warga menyingkap adanya dugaan TPPO yang melibatkan warga Garut sebagai korban. Penyamarannya memungkinkan kedua polwan untuk mendapatkan informasi langsung dari pelaku dan jaringan perdagangan orang.
“Kami harus bisa menyatu dengan lingkungan target penyelidikan. Identitas sebagai polisi benar-benar ditutup agar operasi berjalan efektif,” ujar salah satu sumber dari Polres Garut.
Strategi Penyelidikan yang Berani
Dalam operasi ini, Brigadir Popy dan Bripda Fitria menggunakan strategi:
- Menyamar sebagai PSK – Untuk masuk ke jaringan TPPO tanpa dicurigai.
- Mengumpulkan informasi lapangan – Mengenai pelaku, lokasi, dan modus operandi.
- Koordinasi dengan tim polisi – Untuk melakukan penindakan setelah bukti terkumpul.
Langkah berani ini menjadi kunci keberhasilan penyelidikan, karena pelaku perdagangan orang sering berhati-hati terhadap aparat yang menyamar.

Dampak dan Pesan dari Operasi
Kasus ini menyoroti peran aktif polwan dalam penegakan hukum, khususnya dalam perlindungan korban TPPO dan pemberantasan prostitusi ilegal. Keberanian Brigadir Popy dan Bripda Fitria menjadi inspirasi bahwa perempuan polisi juga bisa menjalankan tugas berat dan berisiko tinggi dengan profesionalisme tinggi.
“Operasi ini membuktikan bahwa penegakan hukum tidak mengenal batasan gender, dan keberanian serta dedikasi polwan sangat penting dalam perlindungan masyarakat,” ujar pengamat kepolisian Jawa Barat.
