Bekasi, HarianJabar.com – Bagi generasi milenial yang tumbuh dengan kebiasaan membaca buku, nama Toko Buku Gunung Agung tentu bukan hal asing. Toko buku legendaris yang berdiri di Jl. Kwitang, Jakarta Pusat, pada tahun 1953 ini menjadi salah satu pusat literasi paling populer pada masanya. Anak-anak, pelajar, hingga kolektor buku kerap berkunjung untuk mendapatkan buku, koran, dan majalah terbaru.
Awalnya, Gunung Agung hanyalah sebuah kios kecil yang menjual buku, koran, dan majalah. Namun seiring berjalannya waktu, toko ini berkembang menjadi bangunan besar dengan koleksi yang semakin lengkap. Pada pertengahan 2010-an, Gunung Agung bahkan memiliki sekitar 30 cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Jawa dan Bali.
Sayangnya, persaingan antara buku konvensional dan buku digital membuat jumlah cabangnya mulai berkurang. Meski demikian, sang pemilik tetap berupaya mempertahankan eksistensi toko legendaris ini, terutama di cabang utamanya di Jl. Kwitang yang menjadi simbol perjalanan panjang Gunung Agung.
Kisah perjalanan Toko Buku Gunung Agung tidak bisa dilepaskan dari sosok sang pendiri, Tjio Wie Thay atau yang lebih dikenal sebagai Haji Masagung. Lahir di Jatinegara, Jakarta, pada 8 September 1927, ia merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Terlahir dari keluarga berada, kehidupan Masagung kecil berubah drastis ketika ayahnya meninggal pada 1931. Kehidupan mereka menjadi sulit, bahkan Masagung kecil sempat mencuri buku tulis saudaranya untuk dijual demi uang jajan.

Memasuki usia remaja, ia bekerja sebagai pemain akrobat dan senam dari panggung ke panggung. Namun karena penghasilannya tidak mencukupi, ia beralih menjadi pedagang rokok keliling dengan modal hanya 50 sen. Berkat kemampuan mengelola keuangan, ia dapat membeli kios kecil untuk menjual rokok dalam jumlah besar. Dari sinilah ia berkenalan dengan Lie Tay San dan The Kie Hoat yang bekerja di perusahaan rokok. Hubungan bisnis yang erat membuat ketiganya memutuskan membangun usaha bersama.
Awalnya mereka menjual rokok, tetapi karena peluang pasar buku impor sangat besar, mereka mulai menjual buku berbahasa Belanda. Pemintaan yang tinggi membuat mereka memindahkan usaha ke kios 3×3 meter di kawasan Kwitang dan membentuk firma bernama Thay San Kongsie. Untuk memperbanyak koleksi, mereka membeli buku-buku bekas dari rumah-rumah orang Belanda. Cara ini membuat mereka memperoleh buku berkualitas dengan harga murah, lalu menjualnya kembali dengan harga bersaing.
Setelah menikah dengan Hian Nio atau Ayu Agung pada 13 Mei 1951, Haji Masagung mengajak dua rekannya untuk mengembangkan toko buku lebih besar. Namun The Kie Hoat memilih jalan sendiri sehingga tersisa Masagung dan Lie Tay San untuk melanjutkan rencana besar tersebut. Mereka mengembangkan toko di Jl. Kwitang No. 13 dengan menjual alat tulis, kertas, hingga menggandeng wartawan dan penulis untuk menerbitkan karya melalui toko mereka.
Pada 8 September 1953, Haji Masagung meresmikan nama Toko Buku Gunung Agung. Nama itu terinspirasi dari arti nama Tjio Wie Thay yang bermakna “gunung besar”. Di bawah kepemimpinan Masagung, toko buku ini berkembang pesat dan menjadi salah satu ikon literasi Indonesia.
Perjalanan panjang Haji Masagung berakhir pada 24 September 1990. Usai kepergiannya, Toko Buku Gunung Agung dikelola oleh anak bungsunya, Ketut Masagung. Meski tidak lagi memiliki kejayaan sebanyak era sebelumnya, Toko Buku Gunung Agung tetap menjadi simbol sejarah literasi Indonesia yang tak tergantikan.
