Ciamis, HarianJabar.com – Duka masih menyelimuti warga Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, setelah banjir bandang dan tanah longsor menghantam wilayah tersebut pada 25 November 2025. Curah hujan ekstrem sejak malam sebelumnya membuat bencana datang begitu cepat, menimbulkan kepanikan dan kerusakan di sejumlah permukiman.
Damai Mendrofa, jurnalis sekaligus pengelola Bank Sampah di Kelurahan Pandan, menjadi salah satu saksi mata peristiwa tersebut. “Menjelang sekitar jam 3 sore itu tiba-tiba longsor besar di perbukitan Matauli dan itu menerjang gudang PLN,” ungkapnya, Kamis (4/12/2025).
Sejak malam sebelumnya, hujan deras tak henti mengguyur, dan pada pagi hari air mulai menggenang. Perbukitan Matauli menunjukkan tanda-tanda bahaya, seperti pergerakan tanah dan pohon-pohon yang roboh satu per satu. Warga mencoba saling mengingatkan melalui media sosial, memanfaatkan sinyal yang masih hidup.
“Hingga siang hari sinyal masih aktif, masih banyak masyarakat yang saling mengabarkan melalui media sosial bahwa hati-hati. Termasuk saya juga waktu itu menginformasikan bahwa perbukitan Matauli itu sudah mulai mengkhawatirkan,” jelas Damai.
Namun, peringatan tersebut tak mampu menghentikan bencana. Sekitar pukul 15.00, longsoran besar dari perbukitan Matauli menghantam gudang PLN, sementara air bah datang bersamaan dalam hitungan detik. Bencana ini menimbulkan kerusakan luas, terutama di daerah permukiman dataran rendah.

Bersyukurnya, lokasi bank sampah Damai berada di area lebih tinggi sehingga tidak ikut tergenang. “Tidak sampai tergenang air walau secara tiba-tiba air memang besar,” imbuhnya.
Setelah banjir dan longsor, listrik padam total, dan warga bergantung pada sinyal ponsel untuk komunikasi. Satu jam kemudian, dua longsor tambahan terjadi di dekat perbukitan Matauli. Tiga warga yang tertimbun material longsor baru berhasil dievakuasi pada hari keenam pasca-bencana.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian baru. Listrik belum pulih sepenuhnya, dan antrean panjang terlihat di berbagai titik untuk membeli tabung gas, bahan bakar minyak, maupun beras.
Meski dalam kondisi terbatas, solidaritas warga cepat tumbuh. Di kompleks tempat Damai tinggal, warga membangun dapur umum secara swadaya, dengan bantuan dari pemerintah setempat.
Damai menekankan pentingnya distribusi bantuan yang merata, karena tidak semua warga memiliki sumber daya untuk bergerak sendiri. “Masyarakat terdampak berharap bantuan datang ke mereka. Tidak semua orang punya motor atau becak untuk menjemput air atau membeli makanan,” ujarnya.
Curah hujan ekstrem dan topografi perbukitan yang rentan kembali menjadi peringatan bahwa mitigasi bencana dan penyaluran bantuan harus dilakukan cepat dan merata agar mencegah kerugian lebih besar bila bencana susulan terjadi.
