Jakarta, HarianJabar.com – Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, mengungkap perjalanan partainya sejak awal berdiri, termasuk masa ketika Gerindra masih dianggap sebagai partai kecil atau “gurem”.
“Waktu itu Gerindra itu partai bocil (bocah kecil), partai gurem, enggak diperhitungkan, dianggap remeh. Kita Partai kedelapan DPR, paling kecil tapi cukup gesit,” ujar Hashim dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (8/12/2025).
Hashim menekankan bahwa sejak awal, Gerindra konsisten berpihak pada kelompok rentan. Pada 2013, saat kelompok disabilitas meminta audiensi dengan DPR, fraksi Gerindra menjadi pihak yang merespons secara konsisten, menegaskan identitas partai yang “melayani yang tertindas, termiskin, dan tertinggal.”
Ia juga menyoroti komitmen partai dalam meningkatkan hak-hak penyandang disabilitas, menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto, saat itu Ketua Dewan Pembina, belum menjadi Ketua Umum, namun Gerindra sudah berani berkomitmen mengganti UU penyandang cacat menjadi UU penyandang disabilitas.

Hashim menambahkan sentuhan personal dalam perjuangan ini. Cucu laki-lakinya, Wira Wardana, lahir pada 2017 dengan down syndrome. “Saya kira ini semua peran dan keluarga saya, itu sudah takdir. Tuhan mengajak saya ikut dalam perjuangan saudara-saudara sebelum cucu saya lahir,” ungkapnya.
Tak hanya kebijakan, fasilitas di DPP Gerindra pun disesuaikan untuk penyandang disabilitas. Lift di DPP telah dilengkapi braille agar kader tunanetra dapat mengetahui informasi dan berinteraksi dengan sesama anggota partai.
“Di lift DPP kita sudah terpasang braille supaya kawan-kawan, kader Gerindra yang tunanetra bisa tahu dan bertemu dengan kawan-kawannya,” pungkas Hashim.
