Bandung, HarianJabar.com 4 September 2025 – Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kota Bandung melonjak tajam dalam dua pekan terakhir. Kenaikan ini membuat para pedagang kelimpungan dan konsumen terpaksa mengencangkan ikat pinggang.
Pantauan di Pasar Kosambi dan Pasar Sederhana menunjukkan harga beras medium yang sebelumnya dijual Rp11.000 per kilogram kini menembus Rp14.000. Sementara beras premium sudah mencapai Rp16.000 per kilogram, naik sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 dari bulan lalu.

“Kalau naiknya wajar sih kami maklum, tapi ini sudah terlalu tinggi. Pembeli banyak yang mengeluh,” ujar Rina (43),
pedagang sembako di Pasar Kosambi, sambil mengelus dada. Ia mengaku omzet hariannya turun drastis karena konsumen membeli dalam jumlah lebih sedikit atau beralih ke jenis beras yang lebih murah.
Kondisi serupa dirasakan oleh para pembeli. Wati (35), ibu rumah tangga asal Kiaracondong, mengaku terpaksa mengurangi porsi belanja beras. “Biasanya beli 10 kilo buat sebulan, sekarang cuma sanggup 5 kilo. Sisanya kami akali dengan jagung atau singkong,” tuturnya.
Faktor Penyebab: Cuaca Buruk & Pasokan Tersendat
Dinas Perdagangan Kota Bandung menyebutkan bahwa kenaikan harga disebabkan oleh menurunnya pasokan dari daerah penghasil akibat cuaca ekstrem dan masa panen yang mundur. Kepala Dinas Perdagangan, H. Dedi Kusnadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Bulog untuk menstabilkan harga.
“Kami akan dorong operasi pasar dan distribusi beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) di pasar-pasar tradisional. Kami harap ini bisa membantu menekan harga dalam waktu dekat,” ujarnya.
Namun demikian, distribusi beras SPHP dinilai masih belum merata dan stok di beberapa titik sudah menipis. Kondisi ini membuat warga semakin khawatir akan lonjakan harga yang terus berlanjut.
Dampak Sosial & Ekonomi
Kenaikan harga beras tak hanya berdampak pada rumah tangga kelas menengah ke bawah, tapi juga pelaku usaha kecil seperti warteg dan penjual makanan keliling. Dedi (52), pemilik warteg di kawasan Antapani, mengatakan bahwa biaya produksi naik tajam.
“Beras itu bahan pokok utama. Kalau mahal, kami terpaksa kecilkan porsi atau naikkan harga. Tapi kalau harga naik, pelanggan bisa kabur,” keluhnya.
Solusi Jangka Pendek dan Panjang
Pemerintah Kota Bandung didesak untuk segera mengambil langkah konkret. Selain operasi pasar, diperlukan kebijakan jangka panjang seperti memperkuat ketahanan pangan lokal dan memperbaiki distribusi logistik.
Sementara itu, masyarakat diimbau untuk bijak dalam berbelanja dan memanfaatkan program bantuan pangan dari pemerintah.
