Karawang, HarianJabar.com – Seorang santriwati di Karawang mengalami trauma berat setelah menjadi korban pencabulan oleh sopir antarjemput sekolah. Peristiwa ini terjadi beberapa pekan terakhir di area sekolah dan rumah korban.
Menurut keterangan orang tua korban, tindakan tidak senonoh itu dilakukan saat korban sedang dalam perjalanan menggunakan layanan antarjemput sekolah. Korban sempat merasa takut dan bingung sehingga menunda laporan, namun akhirnya pihak keluarga membawa kasus ini ke kepolisian.
Pelaku Ditangkap
Polres Karawang membenarkan adanya laporan pencabulan yang melibatkan sopir antarjemput. Pelaku kini ditahan untuk menjalani proses hukum sesuai pasal perlindungan anak dan kekerasan seksual.
“Kami langsung menindaklanjuti laporan dan mengamankan pelaku agar tidak melarikan diri atau mengulangi perbuatannya,” ujar Kapolres Karawang.

Dampak Psikologis pada Korban
Ahli psikologi menekankan bahwa korban pencabulan seperti ini sering mengalami trauma jangka panjang, termasuk:
- Rasa takut berlebihan terhadap transportasi atau orang asing.
- Gangguan emosional seperti depresi dan kecemasan.
- Penurunan kepercayaan diri dan kesulitan berinteraksi sosial.
Oleh karena itu, pendampingan psikologis sangat penting untuk memulihkan kondisi mental korban.
Tindakan Sekolah dan Orang Tua
Pihak sekolah telah meningkatkan pengawasan sopir dan keamanan siswa, termasuk:
- Memasang kamera CCTV di kendaraan antarjemput.
- Memastikan sopir menjalani pemeriksaan latar belakang dan pelatihan etika.
- Memberikan edukasi kepada santriwati terkait cara menghadapi situasi berisiko.
Orang tua juga diminta lebih aktif memantau perjalanan anak dan memastikan anak merasa aman saat menggunakan layanan antarjemput.
Kasus pencabulan sopir antarjemput terhadap santriwati di Karawang menjadi peringatan serius bagi sekolah dan orang tua. Pengawasan lebih ketat, edukasi, serta pendampingan psikologis korban menjadi kunci agar kasus serupa tidak terulang dan korban dapat pulih sepenuhnya.
