HarianJabar.com – Internasional, 28 Juni 2025
Ekspor listrik Rusia ke Tiongkok dilaporkan anjlok hingga 44% secara year-over-year (YoY) pada paruh pertama tahun 2025. Penurunan tajam ini diungkapkan oleh Inter RAO, perusahaan milik negara Rusia yang bertanggung jawab atas ekspor listrik lintas batas.
Dampak langsungnya? Penurunan ini memunculkan kekhawatiran soal ketahanan pasokan energi di China, yang merupakan konsumen energi terbesar di dunia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi untuk sektor industri dan teknologi tinggi.
Apa Penyebabnya?
Inter RAO menyebutkan bahwa penurunan ekspor ke China terjadi akibat:
- Pembatasan pasokan internal yang diberlakukan oleh pemerintah Rusia.
- Langkah ini diambil untuk mengutamakan kebutuhan domestik, khususnya di kawasan Timur Jauh Rusia yang mengalami lonjakan permintaan listrik pada musim panas 2025.
“Kami terpaksa mengurangi volume ekspor karena harus memastikan kebutuhan energi dalam negeri terpenuhi,” ungkap juru bicara Inter RAO.
Dampak Potensial bagi China
Rusia selama ini merupakan salah satu pemasok utama listrik bagi beberapa provinsi perbatasan di timur laut China. Penurunan drastis ini berpotensi:
- Meningkatkan tekanan pada infrastruktur energi lokal di China, terutama selama puncak musim panas.
- Memaksa China mencari alternatif pasokan lebih cepat, termasuk peningkatan produksi batu bara domestik atau pembelian dari negara lain.
China sendiri tengah menggalakkan peralihan ke energi bersih, namun transisi ini belum sepenuhnya bisa menutupi kebutuhan listrik dalam waktu dekat.
Pandangan Analis
Analis energi internasional menilai bahwa dinamika ini mencerminkan kerentanan regional terhadap fluktuasi pasokan lintas negara, apalagi ketika krisis iklim dan geopolitik mulai berdampak langsung pada kebijakan energi nasional.
“Ketika satu negara mengalami lonjakan permintaan domestik, ekspor bisa dikorbankan. Ini memperlihatkan betapa pentingnya diversifikasi sumber energi,” ujar salah satu analis dari lembaga energi independen di Singapura.
Imbas Global?
Meski dampaknya saat ini masih bersifat regional, penurunan pasokan listrik lintas batas seperti ini dapat menambah tekanan pada rantai pasok energi Asia Timur, serta berpotensi mempengaruhi harga energi global jika berlangsung dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Penurunan 44% ekspor listrik Rusia ke China pada awal 2025 menjadi peringatan bagi banyak negara untuk tidak terlalu bergantung pada satu sumber energi luar negeri. China sendiri dituntut untuk mempercepat transisi energi dan memperluas cadangan strategisnya guna mengantisipasi ketidakpastian ke depan.
