Bandung –
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat resmi menghentikan program barak militer untuk pelajar yang sebelumnya digagas oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Program yang telah dijalankan dalam dua gelombang tersebut dipastikan tidak akan dilanjutkan untuk tahun ajaran berikutnya.
Keputusan penghentian diambil setelah melalui evaluasi internal dan diskusi bersama Dinas Pendidikan Jawa Barat, dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat, praktisi pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Alih Fokus ke Pendidikan Karakter Lewat Kurikulum Sekolah
Alih-alih melibatkan pelajar dalam pendidikan ala militer secara intensif, DPRD Jabar bersama Disdik kini memutuskan untuk mengalihkan pendekatan pembentukan karakter siswa ke jalur yang lebih edukatif dan kontekstual, yakni melalui kurikulum muatan lokal (Mulok) di sekolah.
Fokus utama akan ditanamkan melalui Mulok Sunda, yang mengangkat nilai-nilai luhur seperti:
Cageur (sehat jasmani dan rohani)
Bageur (berperilaku baik)
Bener (berpikir dan bertindak benar)
Pinter (cerdas dan berpengetahuan)
Singer (sigap dan tanggap)
“Kami ingin pembentukan karakter pelajar dilakukan dalam ekosistem pendidikan yang positif, kontekstual, dan berkelanjutan. Bukan lewat pendekatan yang terlalu keras atau di luar ruang belajar formal,” ujar salah satu anggota DPRD dalam sesi evaluasi.
TNI-Polri Tetap Bisa Terlibat, Tapi Bersifat Opsional
Meski program barak militer dihentikan, sekolah tetap diberikan ruang untuk bekerja sama dengan TNI atau Polri dalam pelatihan kedisiplinan, bela negara, atau edukasi hukum, selama kegiatan tersebut tidak bersifat wajib dan bukan bagian dari kurikulum utama.
Pendekatan ini dianggap lebih adaptif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah serta karakteristik wilayah di Jawa Barat.
Tahap Pembahasan dan Transisi
Saat ini, DPRD dan Disdik Jabar masih membahas rincian teknis terkait transisi pendekatan ini, termasuk mekanisme pembelajaran Mulok yang lebih terarah dan terukur.
Selain itu, akan dilakukan penyusunan ulang program karakter agar tidak hanya seremonial, tetapi benar-benar membentuk etos moral, budaya, dan disiplin yang relevan dengan kehidupan siswa.
Pro dan Kontra Muncul di Masyarakat
Keputusan ini menuai tanggapan beragam. Ada yang mendukung karena menilai pendekatan militer tidak cocok untuk usia pelajar, namun ada pula yang menilai pendidikan disiplin semacam itu tetap penting dalam batas tertentu.
Netizen pun ikut mempertanyakan urgensi awal dari program barak tersebut, serta berharap dana pendidikan dapat diarahkan pada fasilitas, literasi, dan peningkatan kualitas guru.
Penutup: Jabar Ubah Arah Pendidikan Karakter
Dengan dihentikannya program barak militer, Jawa Barat kini mengubah arah pembangunan karakter generasi muda ke jalur kultural, edukatif, dan berbasis sekolah.
Langkah ini diharapkan lebih inklusif, fleksibel, dan sesuai dengan nilai-nilai lokal yang sudah mengakar di masyarakat Sunda.
