SYDNEY – 23 Juli 2025
Seorang warga Australia baru-baru ini mengaku mengalami gangguan saraf setelah mengonsumsi suplemen merek Blackmores secara rutin. Kesaksian tersebut menjadi viral di media sosial dan memunculkan kekhawatiran publik terkait keamanan produk suplemen yang selama ini populer digunakan untuk menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan secara umum.
Warga bernama Rachel M., 38 tahun, menyatakan bahwa ia mulai mengalami gejala seperti kesemutan, mati rasa di tangan dan kaki, hingga gangguan koordinasi motorik ringan setelah rutin mengonsumsi produk Blackmores Vitamin B kompleks selama lebih dari tiga bulan.
“Awalnya saya merasa lebih bertenaga. Tapi lama-kelamaan, saya mulai merasa ada yang tidak normal di tubuh saya. Setelah konsultasi medis, dokter mengatakan saya mengalami neuropati ringan yang diduga berkaitan dengan konsumsi suplemen yang berlebihan,” ujarnya dalam sebuah unggahan di forum kesehatan lokal.
Tanggapan Blackmores
Menanggapi kabar ini, pihak Blackmores Australia mengeluarkan pernyataan resmi pada Selasa (22/7), menyatakan bahwa seluruh produk mereka telah melalui proses uji keamanan dan telah terdaftar di Therapeutic Goods Administration (TGA), badan pengawas obat-obatan Australia.
“Kami memahami adanya kekhawatiran masyarakat, namun berdasarkan uji klinis dan regulasi resmi, produk kami aman dikonsumsi sesuai petunjuk penggunaan. Efek samping mungkin terjadi dalam kasus individu tertentu, terutama jika dikonsumsi berlebihan tanpa konsultasi tenaga medis,” jelas pernyataan resmi tersebut.
Blackmores juga menyarankan agar konsumen berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen secara rutin, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan khusus.
Pandangan Medis
Dr. Elisa Tan, ahli neurologi dari Royal Melbourne Hospital, menjelaskan bahwa gangguan saraf atau neuropati bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk konsumsi berlebihan vitamin tertentu, seperti Vitamin B6.
“Vitamin B6 dalam jumlah kecil sangat bermanfaat untuk sistem saraf. Namun konsumsi dalam dosis tinggi secara terus-menerus dapat menimbulkan toksisitas saraf. Karena itu, suplemen sebaiknya digunakan dengan pemahaman dosis yang tepat dan sesuai anjuran medis,” ujarnya.
Regulasi dan Pengawasan
Suplemen makanan seperti Blackmores memang tidak dikategorikan sebagai obat keras, sehingga pengawasannya berbeda dibanding obat resep. Namun demikian, Therapeutic Goods Administration (TGA) tetap melakukan pemantauan terhadap efek samping yang dilaporkan oleh publik, dan memiliki sistem pelaporan terbuka bagi konsumen.
Juru bicara TGA menyatakan pihaknya akan meninjau laporan Rachel dan melakukan evaluasi lanjutan jika ditemukan pola kasus serupa dalam jumlah signifikan.
Kasus yang dialami Rachel menjadi pengingat penting bagi masyarakat bahwa suplemen, meskipun dianggap aman, tetap memiliki risiko efek samping bila tidak digunakan sesuai aturan. Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak menganggap suplemen sebagai pengganti makanan sehat atau terapi medis utama, melainkan hanya sebagai pelengkap bila dibutuhkan.
