Jakarta, HarianJabar.com– PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan penjualan bersih sebesar Rp 18,2 triliun hingga akhir Juni 2025. Namun angka tersebut mengalami penurunan sebesar 4,4 % secara year‑on‑year, dari Rp 19,04 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Meski penjualan turun, kinerja neraca perusahaan menunjukkan tren positif: total aset naik menjadi Rp 18,52 triliun sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp 2,57 triliun per Juni 2025.
Profitabilitas Melemah
Laba bersih yang dicatatkan mencapai Rp 2,15 triliun, turun sebesar 12,6 % dari semester I-2024 (Rp 2,46 triliun). Margin laba dikoreksi seiring penurunan penjualan bersih dan penurunan harga pokok penjualan menjadi Rp 9,44 triliun
Lorem Ipsum has been the industry\’s standard dummy text ever since the 1500s.
Segmen Usaha: Dimana Penurunan Terjadi?
- Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh: turun dari Rp 12,28 triliun menjadi Rp 11,44 triliun.
- Segmen makanan dan minuman: relatif stagnan di angka Rp 6,76 triliun.
Strategi & Harapan Semester II
Presiden Direktur UNVR, Benjie Yap, menilai bahwa kinerja ini masih menunjukkan perbaikan jika dibandingkan dengan semester II-2024. Produk unggulan seperti Pepsodent, Lifebuoy, Royco, dan Clear tetap menunjukkan daya tarik kuat di pasar Indonesia. Ia optimis pertumbuhan akan kembali positif memasuki kuartal III dan IV 2025.
Secara global, Unilever menargetkan pertumbuhan penjualan dasar (underlying sales growth) sebesar 3–5 % untuk tahun penuh 2025, didukung pipeline inovasi dan momentum pemulihan pasar di Indonesia dan China di paruh kedua tahun ini.
Ringkasan Kinerja Semester I‑2025
| Indikator | Semester I‑2025 | YoY Change |
|---|---|---|
| Penjualan Bersih | Rp 18,20 triliun | −4,4 % |
| Laba Bersih | Rp 2,15 triliun | −12,6 % |
| Harga Pokok Penjualan | Rp 9,44 triliun | Menurun sedikit |
| Total Aset | Rp 18,52 triliun | +15,5 % |
| Ekuitas | Rp 2,57 triliun | +19,5 % |
Kinerja Unilever Indonesia pada semester pertama 2025 menunjukkan tantangan signifikan dari sisi penjualan dan profitabilitas. Namun, stabilitas neraca dan strategi merek yang kuat menjadi tumpuan untuk mendorong pemulihan di paruh kedua tahun. Inovasi produk dan kekuatan merek menjadi kunci agar UNVR mampu menjaga relevansi di tengah ketidakpastian ekonomi.
