Sumedang, HarianJabar.com 2 Agustus 2025 — Kecelakaan beruntun yang melibatkan sedikitnya 7 kendaraan terjadi di terowongan kembar Tol Cisumdawu, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu siang. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, sejumlah pengendara mengalami luka ringan hingga sedang, dan arus lalu lintas sempat tersendat hingga dua jam.
Kecelakaan terjadi di lajur arah Bandung menuju Cirebon, tepat di dalam salah satu terowongan ikonik tol tersebut. Pihak kepolisian dan pengelola jalan tol langsung mengevakuasi kendaraan dan melakukan penyelidikan awal di lokasi.
Faktor Dugaan: Jalan Licin & Penerangan Terowongan
Menurut hasil penyelidikan sementara dari Satlantas Polres Sumedang dan PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT), dua faktor utama yang diduga memicu insiden ini adalah:

Kondisi jalan licin akibat hujan ringan yang terjadi menjelang kejadian.
Kondisi pencahayaan di dalam terowongan yang membuat visibilitas pengendara menurun, terutama saat memasuki area transisi terang-gelap.
“Pengemudi kendaraan di depan mendadak mengerem saat masuk terowongan, lalu kendaraan di belakang tak sempat menghindar,” ujar AKP Dede Fajar, Kanit Laka Satlantas Sumedang.
Kronologi Singkat Kejadian
Kecelakaan bermula dari kendaraan minibus yang melambat mendadak di mulut terowongan. Di belakangnya, beberapa kendaraan — termasuk truk ringan dan sedan pribadi — tidak sempat mengatur jarak aman, sehingga terjadi tabrakan beruntun.
Total 7 kendaraan mengalami kerusakan ringan hingga sedang, dan beberapa pengemudi serta penumpang dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat perawatan.
Tindak Lanjut & Evaluasi Keselamatan
Pihak pengelola tol menyatakan akan segera melakukan evaluasi teknis, termasuk peninjauan ulang sistem penerangan, rambu-rambu peringatan, serta permukaan jalan di sekitar terowongan.
“Keselamatan pengguna jalan adalah prioritas utama. Kami akan memperbaiki sistem peringatan dan mengevaluasi desain penerangan,” kata perwakilan CKJT.
Sementara itu, kepolisian mengimbau pengendara untuk selalu menjaga jarak aman, terutama saat memasuki wilayah dengan perubahan pencahayaan ekstrem seperti terowongan.
