Lembang, HarianJabar.com— 26 Agustus 2025 Di balik udara sejuk dan hamparan hijau khas Lembang, sebuah batu raksasa berdiri menjulang — tegas, sunyi, sekaligus menyimpan banyak cerita. Dialah Gunung Batu, formasi alam unik yang bukan hanya menjadi tempat wisata populer, tapi juga saksi diam pergerakan bumi dan penjaga tradisi spiritual masyarakat sekitar.
Gunung Batu bukan gunung berapi. Ia adalah bagian dari Sesar Lembang, patahan aktif yang membentang sepanjang puluhan kilometer dari barat ke timur Bandung. Retakan bumi ini secara perlahan tapi pasti, membentuk bentang alam dramatis, salah satunya batuan raksasa yang kini menjadi ikon kawasan Lembang.
Menurut ahli geologi dari PVMBG, Dr. Aditya Nugraha, formasi Gunung Batu adalah bukti kuat dari pergerakan sesar yang terus aktif hingga kini.

“Struktur vertikal ini terbentuk akibat dorongan dari sesar yang mendorong batuan ke atas selama ribuan tahun. Ini menjadi lokasi penting untuk studi kegempaan di Jawa Barat,” ungkapnya.
Namun, daya tarik Gunung Batu tidak berhenti pada ilmu geologi. Di puncaknya, terdapat sebuah makam tua yang dikeramatkan, dikelilingi oleh ketenangan dan kabut pagi yang sering menyelimuti lerengnya. Warga setempat menyebut makam ini sebagai petilasan leluhur — sosok yang diyakini pernah berperan menyebarkan ajaran Islam atau menjaga wilayah.
Ujang Supriatna, penjaga kawasan sekaligus juru kunci tidak resmi, mengatakan bahwa makam itu sudah ada sejak ia kecil.
“Biasanya orang datang untuk ziarah, terutama saat hari-hari tertentu seperti malam Jumat atau bulan Maulid. Kami menjaga agar pengunjung tetap sopan karena tempat ini bukan hanya batu, tapi juga dipercaya sebagai tempat yang suci,” tuturnya.
Perpaduan antara sains dan spiritualitas ini menjadikan Gunung Batu istimewa. Ia menjadi ruang belajar alam, sekaligus ruang refleksi batin. Di satu sisi, ia mengingatkan manusia akan kekuatan bumi yang bisa bergerak sewaktu-waktu. Di sisi lain, ia menyimpan kisah manusia yang mencari makna dan perlindungan di tengah ketidakpastian alam.
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama komunitas geowisata kini tengah merancang pengembangan Gunung Batu sebagai destinasi edukatif yang menggabungkan pengetahuan geologi, mitigasi bencana, dan pelestarian nilai-nilai lokal.
“Kita tidak bisa hanya melihat Gunung Batu dari sisi pariwisata semata. Ada potensi besar untuk menjadikannya sebagai tempat belajar, tentang bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan,” kata Dr. Fitri Nursyamsi, antropolog dari Universitas Padjadjaran.
Gunung Batu bukan sekadar batu. Ia adalah halaman terbuka dari buku bumi, dan juga bab dalam kisah spiritual masyarakat Sunda. Naik ke puncaknya, pengunjung tidak hanya melihat pemandangan Bandung dari ketinggian — tetapi juga merenungi betapa alam dan keyakinan telah lama saling menjaga.
