Jakarta, HarianJabar.com — Jalanan Ibu Kota kembali menjadi panggung rakyat. Di tengah teriknya matahari, ratusan buruh berbaris, membawa spanduk, meneriakkan tuntutan, dan… mengarak boneka tikus berdasi.
Ya, bukan sekadar orasi. Aksi buruh kali ini hadir dengan simbol yang mencolok dan tidak main-main: replika tikus raksasa berdasi, lengkap dengan jas formal, koper, dan buku bertuliskan “Omnibus Law”.
Simbol itu tidak datang tanpa maksud. Ia hadir sebagai sindiran keras terhadap korupsi, kekuasaan yang rakus, dan kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

Tikus Bukan Tikus Biasa
Boneka tikus berdasi yang diarak bukan sekadar hiasan teatrikal. Ia adalah simbol perlawanan.
Menurut Nining Elitos, Ketua Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), tikus berdasi itu melambangkan koruptor berbaju rapi yang merampas hak-hak rakyat.
“Negara sedang darurat korupsi. Tikus berdasi itu menggambarkan pejabat yang rakus, yang menggadaikan nasib buruh lewat kebijakan semena-mena,” ujar Nining saat orasi.
Buku besar bertuliskan “Omnibus Law” yang digenggam si tikus? Itu sindiran yang lebih pedas. Undang-undang Cipta Kerja dianggap lahir dari proses politik yang elitis, minim partisipasi publik, dan penuh kepentingan investor.
Suara dari Jalanan
Aksi buruh ini digelar di kawasan Patung Kuda, Jakarta, dalam rangka menyuarakan penolakan terhadap UU Cipta Kerja, menuntut kenaikan upah layak, dan menyerukan penghapusan sistem kerja outsourcing.
Namun yang paling mencuri perhatian publik adalah cara mereka menyampaikan pesan: simbol visual yang kuat, langsung ke jantung persoalan.
Di era media sosial, aksi seperti ini lebih mudah menyebar. Foto tikus berdasi viral, menjadi bahan diskusi di Twitter, Instagram, bahkan meme.
Aktivisme Kreatif: Bersuara Lewat Simbol
Di tengah gempuran disinformasi dan ruang demokrasi yang makin sempit, buruh membuktikan bahwa protes tak harus membosankan.
Dengan simbol tikus berdasi, mereka menyajikan kritik yang menggelitik, tapi menyengat.
Aksi ini bukan hanya seruan jalanan, tapi juga panggung teater politik, di mana rakyat adalah aktor utama dan kekuasaan tak bisa pura-pura tuli.
Kenapa Ini Penting?
- Tikus berdasi = Kritik terhadap pejabat yang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.
- Buku Omnibus Law = Simbol perlawanan terhadap kebijakan yang dianggap menindas rakyat kecil.
- Lokasi Patung Kuda = Titik simbolik kekuasaan, menjadikan protes ini konfrontatif tapi damai.
Aksi Diam yang Berteriak
Terkadang, satu gambar bisa bicara lebih keras dari seribu orasi.
Tikus berdasi itu tidak bersuara, tapi ia “berteriak” tentang rasa muak, kecewa, dan marah rakyat terhadap ketimpangan dan kesewenangan. Lewat teatrikal protes ini, buruh menunjukkan bahwa aksi massa bisa cerdas, simbolik, dan tetap menggigit.
Dan mungkin, dari balik jas dan dasi si tikus, ada cermin untuk kita semua: siapa yang sebenarnya sedang diarak?
