Lebak, HarianJabar.com – Kabupaten Lebak menjadi salah satu daerah yang turut merasakan dampak program digitalisasi pendidikan nasional melalui distribusi laptop Chromebook dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Perangkat ini tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), tetapi juga mulai menjadi alat bantu dalam praktik mengajar guru dan kegiatan pembelajaran di kelas.
Distribusi laptop ini merupakan bagian dari program pengadaan yang dimulai sejak masa pandemi, sebagai respons terhadap potensi learning loss atau kehilangan pembelajaran yang masif di masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Di Lebak, sejumlah sekolah menyambut baik pemanfaatan Chromebook sebagai alat penunjang pembelajaran berbasis teknologi.

“Siswa jadi lebih antusias karena materi bisa langsung diakses, dan guru lebih leluasa mengajar secara interaktif,” ujar Siti Rahma, salah satu guru SD di Kecamatan Maja, Lebak, saat ditemui pada kegiatan pelatihan daring.
Dari ANBK hingga Peningkatan Kualitas Mengajar
Pada awalnya, laptop ini difokuskan untuk mendukung pelaksanaan ANBK. Namun seiring berjalannya waktu, sekolah-sekolah di Lebak mulai memanfaatkan perangkat tersebut untuk kegiatan belajar mengajar harian.
Menurut Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Banten, yang menggelar kegiatan advokasi digital di Lebak, pemanfaatan Chromebook diperluas hingga ke pelatihan guru, praktik pembelajaran berbasis proyek, serta aktivasi akun belajar.id yang terintegrasi dengan ekosistem Google for Education.
“Kami melihat Chromebook ini bukan hanya alat uji, tapi potensi media transformasi pendidikan. Oleh karena itu, kami dorong sekolah-sekolah memanfaatkannya secara maksimal,” kata perwakilan BPMP Banten, dalam kegiatan sosialisasi yang diadakan pekan lalu.
Distribusi dan Efektivitas
Kementerian menyatakan bahwa lebih dari 97 persen Chromebook yang dialokasikan telah diterima oleh sekolah sasaran, termasuk di wilayah Lebak. Sekolah penerima adalah sekolah aktif dengan infrastruktur internet memadai. Berdasarkan pemantauan internal Kemendikbudristek, sekitar 82 persen dari Chromebook yang sudah didistribusikan telah dimanfaatkan secara aktif untuk kegiatan pembelajaran.
Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim menegaskan bahwa pengadaan Chromebook dilakukan dengan pertimbangan efisiensi anggaran dan kebutuhan spesifik pendidikan digital. Sistem operasi Chrome OS yang digunakan tidak memerlukan lisensi tambahan dan memiliki fitur keamanan terintegrasi yang dinilai penting untuk lingkungan pendidikan.
Tantangan dan Pengawasan
Meski membawa angin segar, program ini juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah akses internet yang belum merata, kurangnya pelatihan intensif untuk guru, serta keterbatasan teknis di beberapa satuan pendidikan.
Untuk itu, BPMP Banten bersama Dinas Pendidikan setempat terus melakukan pendampingan dan pelatihan teknis agar pemanfaatan Chromebook dapat merata, bukan hanya di sekolah unggulan, tetapi juga di sekolah yang baru mengenal konsep digital learning.
Digitalisasi Bukan Sekadar Alat
Program distribusi Chromebook di Lebak menunjukkan bahwa digitalisasi pendidikan bukan sekadar soal alat, tetapi soal perubahan pola pikir dan pendekatan mengajar. Dari pelaksanaan ANBK hingga peningkatan kompetensi guru, transformasi ini menjadi bagian dari langkah panjang menuju sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis teknologi.
Dengan dukungan yang konsisten dari pemerintah daerah dan pusat, serta kesiapan para pendidik, Kabupaten Lebak menjadi contoh bahwa transformasi digital bisa terjadi bahkan di daerah non-perkotaan — selama didukung semangat kolaboratif dan keinginan untuk terus belajar.
