Jakarta, HarianJabar.com – Kasus orang yang mengakhiri hidup semakin marak terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan berbagai pihak, termasuk kalangan medis yang menilai perlunya perhatian lebih serius terhadap kesehatan mental masyarakat.

Seorang dokter spesialis kejiwaan menjelaskan bahwa ada berbagai faktor yang dapat memicu seseorang memilih mengakhiri hidup. Faktor sosial seperti tekanan ekonomi, konflik keluarga, hingga perundungan sering kali menjadi pemicu utama. Selain itu, stigma terhadap penderita gangguan jiwa juga memperburuk kondisi karena banyak yang enggan mencari bantuan medis atau konseling.
“Banyak pasien yang sebenarnya butuh pertolongan, tetapi mereka takut dicap lemah atau dianggap ‘gila’. Stigma ini membuat mereka memilih diam sampai akhirnya kondisinya semakin parah,” ujar seorang psikiater di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Pakar menekankan pentingnya dukungan sosial, terutama dari keluarga dan lingkungan terdekat. Edukasi mengenai kesehatan mental juga disebut perlu diperluas agar masyarakat lebih peduli, sekaligus mengurangi diskriminasi terhadap orang dengan gangguan kejiwaan.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Kesehatan telah mendorong program layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan primer, termasuk penyediaan konseling gratis. Namun, para ahli menilai langkah ini perlu diiringi dengan kampanye masif untuk menghapus stigma.
Masyarakat diimbau agar lebih terbuka dalam membicarakan isu kesehatan mental serta tidak ragu meminta bantuan profesional bila menghadapi tekanan psikologis yang berat.
