Bekasi, Harianjabar.com — Kasus henti jantung mendadak kerap mengejutkan karena bisa terjadi pada siapa saja, bahkan pada orang yang terlihat sehat. Kondisi ini terjadi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba akibat gangguan pada sistem listrik jantung, yang menghambat aliran darah ke seluruh tubuh.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Arief Santoso, SpJP(K), menjelaskan bahwa henti jantung berbeda dengan serangan jantung, meskipun keduanya sama-sama berbahaya.
“Henti jantung bersifat mendadak dan menyebabkan detak jantung berhenti total. Sedangkan serangan jantung disebabkan oleh sumbatan pembuluh darah jantung, dan pasien masih memiliki detak jantung,” jelas dr. Arief saat diwawancarai, Rabu (8/10).

Menurutnya, faktor pemicu henti jantung tidak hanya berasal dari penyakit jantung sebelumnya, tetapi juga bisa dipicu oleh kondisi tertentu seperti:
- Gangguan irama jantung (aritmia)
Irama jantung yang tidak teratur, terutama jenis ventrikel fibrilasi, bisa menyebabkan jantung gagal memompa darah secara efektif. - Kelelahan ekstrem dan stres berat
Aktivitas fisik berlebihan tanpa istirahat cukup dapat mengganggu fungsi listrik jantung, terutama pada orang dengan riwayat penyakit kardiovaskular. - Konsumsi alkohol dan obat-obatan tertentu
Beberapa obat atau zat stimulan dapat memengaruhi kerja otot jantung dan memicu gangguan irama jantung. - Kadar kalium atau magnesium tidak seimbang
Ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung dan berujung pada henti jantung.
Selain itu, dr. Arief menambahkan bahwa pencegahan henti jantung dapat dilakukan melalui gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga, menjaga pola makan seimbang, dan melakukan pemeriksaan jantung secara berkala.
“Orang yang tampak sehat pun sebaiknya melakukan pemeriksaan jantung minimal setahun sekali, apalagi jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung,” tegasnya.
Jika seseorang tiba-tiba kehilangan kesadaran dan tidak merespons, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memeriksa denyut nadi dan segera melakukan CPR (resusitasi jantung paru) sambil menunggu bantuan medis datang.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan jantung, diharapkan kasus kematian mendadak akibat henti jantung dapat dicegah lebih awal.
