Jakarta, HarianJabar.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengirim tim khusus ke India untuk mempelajari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) murah, Jumat (10/10/2025). Langkah ini diambil untuk menekan harga listrik dari 6–8 sen per kilowatt-jam (kWh) menjadi hanya 3 sen per kWh.
“Saya lagi mengirim tim untuk mengecek di sana. Kalau itu benar, maka saya pikir ini sebuah hal yang juga bisa kita lakukan,” ujar Bahlil dalam acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta.
Tim yang dikirim bertujuan mempelajari desain pembangunan PLTS di India, yang memiliki kapasitas besar, hingga 220 MW dengan biaya hanya 3 sen per kWh. Pengetahuan ini akan menjadi acuan pemerintah dalam membangun PLTS 1–1,5 MW di setiap desa, sebagai bagian dari target percepatan pertumbuhan PLTS nasional sebesar 80–100 GW.

Bahlil menambahkan, PLTS desa ini tidak hanya mendukung ketersediaan listrik lokal, tetapi juga membuka peluang bagi pengusaha baterai listrik di dalam negeri, mengingat kebutuhan domestik hingga 2034 diperkirakan mencapai 392 gigawatt hour (GWh). Angka ini mencakup kebutuhan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, mobil dan motor listrik, serta program 100 GW PLTS.
Baca Juga:
macron siap kirim pasukan ke gaza
Selain pasar domestik, potensi pasar internasional juga cukup besar. Diperkirakan mencapai 3.500 GWh pada 2030 dan 500 miliar dolar AS untuk baterai kendaraan listrik global pada periode yang sama.
Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah untuk memperkuat energi terbarukan, menurunkan biaya listrik, dan menciptakan ekosistem baterai listrik yang kompetitif di tingkat nasional maupun global.
“Hitungannya sudah hampir final, sekarang masih di angka 6–8 sen, tetapi di India ada pembangunan PLTS 220 MW dengan biaya hanya 3 sen per kWh. Ini yang akan kita pelajari dan aplikasikan di Indonesia,” pungkas Bahlil.
