Jakarta, HarianJabar.com — Banjirnya produk impor berharga murah membuat enam sektor industri nasional menghadapi tekanan berat. Kondisi ini dikhawatirkan berujung pada penurunan produksi dan meningkatnya angka pengangguran jika tidak segera diatasi.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, enam sektor yang terdampak langsung yaitu industri tekstil, baja, elektronik, kosmetik, keramik, dan alas kaki.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa derasnya arus impor menyebabkan penurunan kinerja produksi di berbagai sektor industri dalam negeri.
“Masifnya produk impor mengganggu kinerja enam sektor tersebut, serta membuat utilisasi dan produksi menjadi tidak maksimal,” ujar Febri di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Menurut Febri, pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam meningkatkan kapasitas produksi karena khawatir produk tidak terserap di pasar domestik.
“Harusnya bisa produksi 100, tapi akhirnya hanya berani produksi 60. Takutnya nanti tidak terserap pasar,” jelasnya.
Dari enam sektor terdampak, baru industri tekstil yang memiliki aturan khusus terkait pengendalian impor. Kemenperin juga menyatakan dukungan terhadap upaya Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenKopUKM) yang menyiapkan skema kemitraan antara pelaku usaha thrifting dan UMKM lokal.
Febri menegaskan pentingnya masyarakat untuk memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri.
“Beli produk lokal berarti melindungi saudara-saudara kita yang bekerja di industri itu,” ujarnya.

Upaya Pemerintah Memperkuat Industri Dalam Negeri
Sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menuturkan bahwa pemerintah tengah memperkuat perlindungan pasar domestik sekaligus menarik investasi baru, khususnya di sektor baja.
Faisol menjelaskan, sekitar 55 persen kebutuhan baja nasional masih dipenuhi dari impor, mayoritas berasal dari China.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga 2021, tercatat ada 562 perusahaan logam dasar dan 1.592 perusahaan barang logam (bukan mesin dan peralatannya) yang beroperasi di Indonesia.
“Ada perbedaan signifikan antara konsumsi baja nasional dan produksi dalam negeri. Kekurangan pasokan diisi oleh impor, sebagian besar dari China,” kata Faisol.
Meski begitu, produksi baja nasional menunjukkan peningkatan. Indonesia kini menempati peringkat ke-14 dunia dengan produksi baja mencapai 18 juta ton pada 2024, naik 110 persen dibanding 2019.
Secara global, total produksi baja kasar mencapai 1,884 miliar ton. China mendominasi dengan 1,005 miliar ton atau 53,3 persen dari total produksi dunia, disusul India dengan 149,4 juta ton atau 7,9 persen.
Dorongan untuk Gunakan Produk Dalam Negeri
Kemenperin terus mengimbau masyarakat dan pelaku usaha agar memperkuat ekosistem industri nasional melalui penggunaan produk lokal. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan sektor industri dan menekan ketergantungan pada impor.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kesadaran masyarakat dalam memilih produk buatan dalam negeri, diharapkan industri nasional dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.
