Bekasi, HarianJabar.com – Ekonom senior dari Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, merespons tulisan mantan Menteri BUMN, Laksamana Sukardi, berjudul “Debat Kusir Whoosh” yang tengah menjadi perhatian publik. Tulisan Laksamana sebelumnya menyinggung perbandingan biaya pembangunan Kereta Whoosh dengan proyek kereta cepat Maglev Chuo Shinkansen di Jepang.
Dalam tulisannya, Laksamana menyebut bahwa perbandingan harus dilakukan secara “apple to apple”, dan proyek yang paling mendekati dari segi karakteristik medan adalah Chuo Shinkansen Tokyo–Nagoya. Menurutnya, biaya pembangunan Whoosh mencapai sekitar 51,3 juta dolar AS per kilometer, sementara biaya Chuo Shinkansen mencapai 100 juta dolar AS per kilometer — sebuah perbandingan yang menurutnya relevan karena kedua jalur sama-sama didominasi terowongan dan viaduk.
Laksamana juga mempertanyakan alasan pemilihan jalur Whoosh yang melewati medan berat, dan menurutnya hal itu perlu dikaji ulang demi efisiensi waktu dan biaya.
Anthony: “Nothing to Compare”
Menanggapi hal tersebut, Anthony Budiawan menyatakan tidak sepakat jika proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) disandingkan dengan Maglev Chuo Shinkansen. Menurutnya, kedua proyek memiliki perbedaan fundamental dari segi teknologi maupun konstruksi.
“Chuo Shinkansen Tokyo–Nagoya tidak dapat dibandingkan dengan Kereta Whoosh,” tegas Anthony, Senin (17/11/2025).
Anthony menilai teknologi Maglev yang digunakan Jepang berada pada level berbeda. “Teknologi kereta cepat Maglev yang ‘terbang’ melayang, jauh lebih canggih dan kompleks ketimbang Whoosh yang bergerak di atas roda. Jadi, nothing to compare,” ujarnya.

Perbedaan Kecepatan dan Kompleksitas
Anthony kemudian menguraikan beberapa aspek teknis yang menurutnya membuat perbandingan kedua proyek menjadi tidak relevan:
- Teknologi
Maglev menggunakan levitasi magnetik yang tidak bersentuhan dengan rel, sementara Whoosh menggunakan teknologi high-speed rail konvensional berbasis roda. - Kecepatan Maksimal
Maglev Chuo Shinkansen dirancang melaju hingga 500–600 km/jam, sedangkan Whoosh memiliki kecepatan maksimal sekitar 350 km/jam. - Medan Konstruksi
Rute Chuo Shinkansen sekitar 90 persen berupa terowongan dengan kedalaman mencapai 40 meter di bawah tanah. Menurut Anthony, tingkat kesulitannya jauh di atas kondisi jalur Whoosh.
“Jadi, menyebut Kereta Whoosh seharusnya dibandingkan dengan Chuo Shinkansen Tokyo–Nagoya jelas-jelas misleading,” lanjutnya.
Pertanyaan soal Motif
Anthony juga mempertanyakan apakah kesalahan perbandingan tersebut disengaja atau tidak. Jika disengaja, ia menilai tulisan itu dapat bertujuan mendiskreditkan para pengamat yang selama ini kritis terhadap proyek Whoosh.
“Banyak kalangan mendesak dilakukan proses hukum terkait dugaan korupsi dan mark-up dalam pelaksanaan proyek Kereta Whoosh. Apakah misleading ini disengaja atau ada maksud tertentu?” tutup Anthony.
