Bekasi, HarianJabar.com – Djoko Susanto dikenal sebagai pendiri dan pemilik jaringan minimarket Alfamart, salah satu ritel terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia. Laporan resmi perusahaan tahun 2024 mencatat bahwa Alfamart telah mengoperasikan lebih dari 20.120 gerai di seluruh Indonesia. Selain itu, terdapat 3.515 gerai tambahan yang dikelola oleh entitas anak, serta ekspansi internasional melalui lebih dari 2.000 gerai di Filipina. Seluruh jaringan ini didukung lima pusat distribusi besar agar operasional ritel tetap efisien dan terkoordinasi.
Dengan skala usaha yang masif, tidak mengherankan jika kekayaan Djoko Susanto terus meningkat dari waktu ke waktu. Berdasarkan Real Time Net Worth Forbes per 15 November 2025, kekayaannya tercatat mencapai US$2.8 miliar. Jika dikonversi ke rupiah menggunakan kurs Rp16.712 per dolar AS, total kekayaan tersebut mencapai sekitar Rp46.79 triliun. Nilai ini menempatkan Djoko sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh sekaligus terkaya di Indonesia yang dibangun dari sektor ritel modern.
Dengan jaringan usaha yang begitu besar, banyak yang bertanya-tanya: apa saja bisnis yang dimiliki Djoko Susanto? Setidaknya terdapat tujuh lini usaha utama yang dikendalikan langsung olehnya, mencakup sektor ritel, convenience store, private label, properti, pendidikan, hingga logistik terintegrasi.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) merupakan kendaraan bisnis utama yang mengelola jaringan Alfamart. Selain itu, perusahaan ini memiliki lima anak usaha yang memperluas aktivitas bisnis ke berbagai sektor. Alfamart Retail Asia Pte, Ltd fokus pada investasi dan ekspansi internasional. PT Global Loyalty Indonesia mengelola platform e-commerce serta data pelanggan. PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) mengoperasikan jaringan Alfamidi, sementara PT Sumber Indah Lestari menaungi ritel kesehatan Dan+Dan. Terakhir, PT Sumber Trijaya Lestari mengelola distribusi grosir melalui merek Aksesmu.
Pada tahun 2025, Djoko memperluas jangkauan bisnis ritel dengan mengakuisisi PT Lancar Wiguna Sejahtera, pemegang lisensi waralaba Lawson Indonesia. Sebelumnya, Lawson berada di bawah PT Midi Utama Indonesia Tbk, namun akuisisi tersebut membuat kendali penuh atas jaringan convenience store asal Jepang tersebut berpindah ke Alfamart Group.
Selain ritel, Djoko juga mengembangkan produk private label melalui brand “A” yang dijual di Alfamart. Produk-produk ini menawarkan kualitas kompetitif dengan harga lebih terjangkau. Kerja sama dilakukan dengan berbagai pabrik besar untuk memproduksi kebutuhan rumah tangga, makanan, minuman, dan barang harian lainnya.

Di sektor properti, Djoko memiliki Alfaland Group, sebuah korporasi yang mengelola bisnis hotel, perkantoran, dan perumahan. Alfaland mengoperasikan brand Signata di Malaysia, hotel-hotel Cordela dan Alfa Resorts di Indonesia, serta mengembangkan sejumlah proyek seperti Grand Bima Mansion dan Alfa Tower di Jakarta. Perusahaan ini juga mengelola berbagai pusat komersial seperti The Plaza Millennium di Medan dan Lodan Center di Jakarta.
Melalui Yayasan Pendidikan Bunda Mulia (YPBM), Djoko turut berkontribusi pada dunia pendidikan. Yayasan ini membawahi Universitas Bunda Mulia (UBM), Bunda Mulia School, serta beberapa sekolah lain yang menyediakan akses pendidikan berkualitas bagi generasi muda.
Kontrol atas kerajaan bisnis ini semakin kuat melalui PT Sigmantara Alfindo atau AlfaCorp, holding company yang mengendalikan 50,19% saham AMRT. AlfaCorp menjadi pusat pengelolaan kekayaan keluarga Susanto sekaligus motor penting ekspansi berbagai lini usaha Alfamart.
Pada Juli 2025, Djoko kembali menambah portofolio bisnisnya dengan membawa PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG) ke lantai bursa melalui proses IPO. BLOG bergerak di bidang logistik terintegrasi dan pergudangan untuk sektor business to business (B2B). Dengan tujuan menjadi pemain besar di industri logistik, BLOG melengkapi ekosistem ritel, distribusi, dan supply chain yang telah dibangun Djoko Susanto lebih dari dua dekade.
Dengan kerja keras, strategi bisnis yang matang, dan diversifikasi usaha yang luas, Djoko Susanto terus memperkuat posisinya sebagai salah satu tokoh penting dalam industri ritel, logistik, pendidikan, hingga properti di Indonesia. Keberhasilannya menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dan konsistensi dapat mengantar seorang pengusaha menuju level tertinggi dunia usaha.
