Bekasi, HarianJabar.com – Proses penilaian akreditasi sekolah saat ini tengah berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Jumlah sekolah yang dinilai tahun ini terbilang terbatas, mengingat seleksi dilakukan secara bertahap dan fokus pada sekolah yang belum atau hampir kadaluarsa masa akreditasinya.
Pelaksanaan akreditasi dibagi ke dalam beberapa tahapan utama, yakni:
- Evaluasi Data dan Dokumen – Sekolah diminta mengunggah dokumen terkait kurikulum, sarana-prasarana, tenaga pendidik, dan capaian belajar siswa. Tim akreditasi kemudian menilai kelengkapan dan kualitas dokumen tersebut sebagai dasar awal penilaian.
- Verifikasi Lapangan (Visitasi) – Tim asesor mengunjungi sekolah untuk memverifikasi data dan dokumen yang telah diserahkan. Kegiatan ini juga mencakup wawancara dengan kepala sekolah, guru, siswa, dan komite sekolah untuk mendapatkan gambaran nyata kondisi sekolah.
- Penetapan Peringkat Akreditasi – Berdasarkan hasil evaluasi dokumen dan verifikasi lapangan, sekolah diberikan peringkat akreditasi, mulai dari A (Unggul), B (Baik), hingga C (Cukup). Peringkat ini berlaku untuk jangka waktu tertentu, biasanya lima tahun, sebelum perlu dilakukan re-akreditasi.
- Pemantauan Berkelanjutan – Setelah akreditasi diterbitkan, sekolah tetap dipantau secara berkala untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga. Pemantauan ini dapat berupa laporan bulanan atau kunjungan evaluasi tambahan jika diperlukan.

Kepala Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M), Rina Wijayanti, menekankan bahwa akreditasi bukan sekadar formalitas, tetapi alat untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Akreditasi membantu sekolah mengetahui kekuatan dan area yang perlu diperbaiki. Tujuannya adalah mendorong peningkatan kualitas pendidikan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sistem akreditasi kini juga didukung oleh aplikasi digital, sehingga proses penilaian lebih transparan, efisien, dan meminimalkan kesalahan administrasi. Sekolah diimbau aktif berpartisipasi dan memanfaatkan teknologi ini agar proses akreditasi berjalan lancar dan hasilnya mencerminkan kondisi nyata sekola
