Bekasi, HarianJabar.com – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, benua Afrika menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Pertemuan para pemimpin ekonomi terbesar dunia itu digelar di Johannesburg, Afrika Selatan, dan menghasilkan Deklarasi Para Pemimpin G20 yang disahkan pada Sabtu (22/11/2025).
Di bawah tema “Solidarity, Equality, and Sustainability” atau Solidaritas, Kesetaraan, dan Keberlanjutan, deklarasi tahun ini menyoroti empat tantangan global paling mendesak: ketahanan bencana, keberlanjutan utang, pemerataan transisi energi yang adil, serta tata kelola mineral penting.
Ketahanan Bencana & Transisi Energi Jadi Sorotan
G20 menyatakan kekhawatiran atas frekuensi dan intensitas bencana alam yang semakin meningkat. Kondisi itu dinilai mengancam pembangunan berkelanjutan dan melemahkan kemampuan negara-negara rentan, khususnya negara kepulauan kecil serta negara kurang berkembang (Least Developed Countries).
Karena itu, para pemimpin menyerukan pendekatan terpadu berbasis masyarakat untuk memperkuat kapasitas mitigasi dan respons bencana.
Isu lain yang menjadi titik berat adalah ketimpangan akses energi. Lebih dari 600 juta warga Afrika masih hidup tanpa listrik, sesuatu yang dikatakan G20 membutuhkan perhatian global yang lebih serius.
Sebagai langkah nyata, negara-negara G20 mendukung target global untuk:
- melipatgandakan tiga kali kapasitas energi terbarukan, dan
- menggandakan laju peningkatan efisiensi energi
pada tahun 2030.

Namun, upaya ini dituntut disertai peningkatan investasi, pendanaan berbiaya rendah bagi negara berkembang, serta mekanisme transfer teknologi secara sukarela.
Mineral Penting: G20 Dukung Hilirisasi Negara Produsen
Salah satu poin paling menonjol dalam deklarasi tahun ini adalah disahkannya Kerangka Kerja Mineral Penting (Critical Minerals Framework), sebuah panduan sukarela untuk membangun rantai nilai mineral yang tangguh, transparan, dan berkelanjutan.
Deklarasi dengan tegas mengakui hak negara-negara produsen—termasuk Indonesia—untuk memanfaatkan sumber daya mineral strategis sebagai penggerak industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi inklusif.
Pesannya jelas:
era ekspor bahan mentah harus berakhir; hilirisasi kini menjadi konsensus global.
Cetak Biru Baru Kerja Sama Ekonomi Dunia
Secara keseluruhan, deklarasi dari Johannesburg ini menegaskan kesadaran kolektif G20 bahwa tantangan global—baik alamiah, struktural, maupun ekonomi—membutuhkan koordinasi internasional yang lebih kuat dan lebih adil.
Kesepakatan tersebut sekaligus menjadi penanda penting bahwa Afrika kini bukan hanya tempat penyelenggaraan, tetapi juga pusat arah baru tatanan ekonomi global.
