Bekasi, HarianJabar.com – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11/2025), menjadi panggung deklarasi politik paling tegas dalam beberapa tahun terakhir. Para pemimpin ekonomi terbesar dunia menyatakan penolakan eksplisit terhadap kebijakan unilateralisme “America First” yang selama ini diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump—yang ironisnya memilih absen dari pertemuan tersebut.
Deklarasi penting itu diadopsi sejak awal pertemuan, tanpa satu pun pejabat tinggi AS hadir. Langkah tersebut menjadi simbol pembangkangan diplomatik yang kuat terhadap kebijakan tarif tinggi Trump yang dianggap merusak stabilitas perdagangan global. G20 menegaskan komitmennya untuk menghadapi “langkah-langkah perdagangan sepihak yang tidak sesuai dengan aturan WTO”, memberikan pukulan telak terhadap pendekatan proteksionis Gedung Putih.
Absennya Trump hanya memperkuat persepsi bahwa AS di bawah kepemimpinannya semakin menjauh dari kerja sama multilateral. Sementara itu, negara-negara G20 menegaskan bahwa mereka justru semakin berkomitmen pada tatanan global berbasis aturan dan kerja sama kolektif.
Dalam deklarasinya, G20 menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai meningkatnya ketidakpastian dan fragmentasi ekonomi dunia. Ancaman terhadap stabilitas global—baik melalui perang dagang maupun “ancaman atau penggunaan kekuatan untuk memperoleh akuisisi teritorial”—dinilai harus dicegah.

Komitmen ini tidak terlepas dari temuan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya sebesar 3,2 persen, turun dari rata-rata prapandemi yang berada di angka 3,7 persen. IMF menyoroti bahwa tingginya ketidakpastian disebabkan oleh dampak tarif proteksionis AS, yang mengganggu rantai pasok global.
Jepang, salah satu negara yang terkena imbas tarif AS, terpaksa mengeluarkan paket ekonomi besar untuk menahan laju inflasi domestik. Perdana Menteri Sanae Takaichi—yang baru pertama kali hadir di G20—menggunakan forum itu untuk menegaskan kembali pentingnya sistem internasional berbasis aturan, terutama di tengah memburuknya hubungan dengan China akibat komentarnya mengenai Taiwan.
China, yang diwakili Perdana Menteri Li Qiang karena Presiden Xi Jinping juga absen, merespons dengan menegaskan kerja sama erat dengan Afrika Selatan dalam isu-isu inti mereka, termasuk Taiwan. Sikap Beijing ini dianggap sebagai sindiran balik terhadap pernyataan pro-Taiwan Takaichi yang menyinggung potensi tindakan militer Jepang.
Di tengah absennya AS dan Rusia, sorotan tetap tertuju pada Donald Trump. Meskipun kerap menentang arah G20, Trump justru dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT G20 tahun depan di Miami, Florida—tepat di jantung “America First”.
Tantangan besar kini menanti G20: menjaga semangat multilateralisme tetap hidup, bahkan ketika mereka harus menggelar pertemuan berikutnya di markas simbolis proteksionisme ala Trump.
