Jakarta, HarianJabar.com – Sedikitnya 30 Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan masih belum diketahui keberadaannya menyusul insiden kebakaran hebat yang terjadi di Hong Kong pekan lalu. Api menghanguskan tujuh blok apartemen di kawasan padat penduduk Tai Po, meninggalkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar terkait nasib para korban.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong bergerak cepat menangani krisis ini. Dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (2/12/2025), KJRI memaparkan data korban terdampak secara rinci, menegaskan betapa seriusnya bencana ini bagi komunitas Indonesia di sana.
Data WNI Terdampak
Total WNI yang terkonfirmasi terdampak mencapai 140 orang. Dari jumlah tersebut, nasib 30 orang masih belum jelas. Data rinci sebagai berikut:
- Meninggal Dunia: 9 orang
- Dirawat: 1 orang
- Selamat: 100 orang
- Belum Ditemukan (Hilang): 30 orang
Angka 30 WNI yang masih hilang menjadi prioritas utama KJRI. Mereka memastikan koordinasi intensif dengan otoritas setempat, termasuk tim pemadam kebakaran dan kepolisian Hong Kong. Upaya pencarian melibatkan pula agen ketenagakerjaan yang biasanya menaungi para Pekerja Migran Indonesia (PMI), mengingat mayoritas WNI yang tinggal di apartemen padat adalah pekerja.

Jaminan Hak dan Repatriasi Korban
KJRI menekankan tanggung jawab penuh untuk memastikan hak-hak WNI dan PMI yang terdampak terpenuhi sesuai hukum yang berlaku. Ini mencakup hak keperawatan bagi korban cedera dan hak penggantian properti jika memungkinkan.
Bagi keluarga korban meninggal dunia, proses administrasi dan komunikasi telah dibuka. KJRI memfasilitasi proses repatriasi jenazah ke Tanah Air atau pemakaman sesuai amanat keluarga. Langkah ini diambil untuk meringankan beban moral dan logistik keluarga yang berduka.
Selain itu, KJRI mendukung penuh langkah otoritas setempat dalam investigasi penyebab kebakaran, memastikan semua prosedur keselamatan dijalankan sesuai protokol yang berlaku di Hong Kong.
Imbauan Privasi
KJRI mengimbau masyarakat, baik di Hong Kong maupun Indonesia, untuk tidak menyebarkan data pribadi korban. Imbauan ini penting untuk menjaga privasi dan mencegah eksploitasi data di tengah situasi krisis.
Situasi di Hong Kong saat ini masih sangat dinamis dan memprihatinkan. Dengan 30 WNI yang masih hilang, harapan dan kecemasan bercampur. Publik Indonesia terus menunggu kabar terbaru mengenai nasib saudara-saudara kita di Tai Po.
