Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia resmi menyelesaikan kesepakatan perdagangan besar yang bertujuan memperluas akses pasar bagi kedua negara. Perjanjian tersebut diumumkan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah penandatanganan dokumen komitmen bersama dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
Dilansir dari The White House, Rabu (19/2/2026), kesepakatan perdagangan tersebut mencakup berbagai sektor strategis seperti manufaktur, pertanian, energi, teknologi digital, hingga industri penerbangan. Pemerintah Amerika Serikat menyebut perjanjian ini sebagai langkah besar untuk memperluas akses produk Amerika ke pasar Indonesia.
Dalam perjanjian tersebut, Indonesia disebut akan menghapus lebih dari 99 persen tarif terhadap produk Amerika Serikat yang masuk ke pasar Indonesia. Produk yang terdampak antara lain produk pertanian, hasil laut, teknologi informasi dan komunikasi, otomotif, bahan kimia, serta produk kesehatan.
Selain penghapusan tarif, Indonesia juga berkomitmen mengatasi sejumlah hambatan non-tarif yang sebelumnya menjadi kendala bagi perusahaan Amerika. Beberapa kebijakan yang akan disesuaikan mencakup pengakuan standar keselamatan kendaraan Amerika, penerimaan standar Food and Drug Administration (FDA) untuk alat kesehatan dan farmasi, serta penghapusan sejumlah persyaratan sertifikasi dan pelabelan yang dianggap memberatkan.
Kesepakatan ini juga mencakup sektor ekonomi digital. Indonesia berkomitmen menghapus tarif untuk produk digital tidak berwujud serta mendukung moratorium permanen terhadap bea masuk untuk transmisi elektronik di World Trade Organization (WTO).
Di sisi investasi, kedua negara juga mengumumkan kerja sama komersial senilai sekitar US$33 miliar yang mencakup sektor energi, pertanian, dan industri penerbangan. Rincian kerja sama tersebut meliputi pembelian komoditas energi Amerika senilai sekitar US$15 miliar, pengadaan pesawat komersial dan layanan penerbangan sekitar US$13,5 miliar, serta pembelian produk pertanian Amerika lebih dari US$4,5 miliar.
Selain itu, perusahaan tambang Amerika Freeport-McMoRan juga menandatangani nota kesepahaman dengan Indonesia untuk memperpanjang izin operasi dan memperluas aktivitas tambangnya di kawasan Grasberg, salah satu tambang tembaga terbesar di dunia. Kerja sama ini diperkirakan dapat menghasilkan pendapatan sekitar US$10 miliar per tahun sekaligus memperkuat rantai pasok mineral strategis bagi Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, pemerintah Amerika Serikat menyebut kesepakatan ini sebagai langkah penting untuk memperkuat hubungan perdagangan dengan Indonesia, yang merupakan salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara. Pemerintah AS juga menyatakan bahwa perjanjian tersebut bertujuan mengurangi defisit perdagangan Amerika terhadap Indonesia yang mencapai US$23,7 miliar pada 2025.
Kesepakatan perdagangan ini selanjutnya akan melalui proses domestik di kedua negara sebelum mulai berlaku secara penuh dalam beberapa waktu ke depan.
