Bekasi, Harianjabar.com — Kasus rabun jauh atau mata minus pada anak terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan pelajar sekolah dasar hingga remaja. Para ahli kesehatan mata menyebutkan bahwa kebiasaan menatap layar gawai terlalu lama dan kurangnya aktivitas di luar ruangan menjadi penyebab utama gangguan penglihatan ini.
Peningkatan Kasus di Kalangan Anak
Berdasarkan data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), jumlah anak dengan gangguan rabun jauh meningkat signifikan sejak pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh perubahan gaya belajar daring yang membuat anak-anak lebih sering menatap layar dalam waktu lama.
Dokter spesialis mata, dr. Indah Sari, SpM, menjelaskan bahwa terlalu sering menatap layar dapat menyebabkan mata lelah dan memicu gangguan refraksi.
“Paparan layar secara terus-menerus tanpa jeda membuat otot mata bekerja ekstra. Jika berlangsung lama, hal ini bisa memicu rabun jauh,” ujarnya.
Faktor Penyebab Rabun Jauh pada Anak
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko rabun jauh di usia dini meliputi:
- Terlalu lama bermain gadget atau menatap layar komputer tanpa istirahat.
- Kurangnya aktivitas luar ruangan, terutama bermain di bawah sinar matahari pagi.
- Kebiasaan membaca dalam posisi atau pencahayaan buruk.
- Faktor genetik, di mana orang tua memiliki riwayat rabun jauh.

Langkah Efektif Mencegah Rabun Jauh
Para ahli menyarankan beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan oleh orang tua, antara lain:
- Batasi waktu layar (screen time) maksimal dua jam per hari di luar kebutuhan belajar.
- Terapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, istirahat 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter).
- Dorong anak bermain di luar ruangan minimal 1–2 jam setiap hari agar mata mendapat paparan cahaya alami.
- Pastikan pencahayaan cukup saat membaca atau belajar.
- Periksa mata anak secara rutin setiap enam bulan sekali.
“Kunci utamanya adalah keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik di luar ruangan. Anak-anak perlu ruang untuk melihat jauh agar otot mata tetap fleksibel,” tambah dr. Indah.
Edukasi dan Peran Orang Tua
Pakar kesehatan anak menegaskan pentingnya edukasi dan pengawasan dari orang tua. Membiasakan anak untuk beristirahat dari layar, mengatur jadwal belajar, dan mengenalkan kegiatan tanpa gadget dapat membantu menjaga kesehatan mata mereka.
Rabun jauh pada anak bukan sekadar masalah penglihatan, tetapi juga berdampak pada prestasi belajar dan kualitas hidup. Dengan penerapan gaya hidup sehat dan pengawasan orang tua, risiko gangguan mata ini dapat ditekan sejak dini.
