Blora — Siapa sangka limbah kotoran sapi yang selama ini dianggap sebagai masalah lingkungan, justru bisa menjadi peluang emas bagi perekonomian desa? Melalui pendekatan berkelanjutan dan inovatif, sejumlah warga di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, berhasil mengolah limbah peternakan menjadi biogas dan pupuk organik, yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga menghasilkan keuntungan ekonomi.
Dari Kotoran Menjadi Energi
Warga memanfaatkan kotoran sapi untuk memproduksi biogas, yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti gas LPG di rumah tangga. Proses ini dilakukan dengan bantuan reaktor biogas skala rumah tangga, yang dikelola secara swadaya atau lewat kelompok tani.
“Awalnya kami kesulitan membuang limbah sapi, tapi setelah ada pelatihan pembuatan biogas, sekarang justru menghemat pengeluaran dapur,” ujar Mulyono, salah satu peternak di Desa Sambongrejo.
Selain mengurangi pencemaran, limbah sisa dari proses biogas juga digunakan sebagai pupuk organik padat dan cair, yang kembali dimanfaatkan untuk pertanian warga sekitar.
Mendorong Ekonomi Sirkular Desa
Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada ketahanan energi keluarga, tapi juga menumbuhkan kegiatan ekonomi baru di desa. Sejumlah kelompok tani kini menjual pupuk organik hasil pengolahan tersebut ke pasar lokal dengan harga terjangkau, namun bernilai tinggi secara lingkungan.
Pemerintah desa dan dinas terkait juga memberikan dukungan dalam bentuk pelatihan, bantuan alat, hingga pembentukan koperasi peternak dan petani organik.
Efek Berganda: Lingkungan, Energi, dan Kesejahteraan
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ekonomi sirkular berbasis desa bisa menjadi solusi nyata bagi persoalan limbah sekaligus mendorong ketahanan energi dan pertanian berkelanjutan. Inisiatif seperti ini dapat menjadi percontohan bagi daerah lain yang memiliki potensi serupa, baik dalam bidang peternakan maupun pertanian terpadu.
