Bandung — Sekolah Cikal Bandung kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati budaya, kreativitas, dan keberanian berekspresi. Hal ini tercermin dalam acara tahunan mereka bertajuk “Playground of Nusa Nipa”, yang digelar meriah pada Jumat, 12 Juli 2025 di area sekolah mereka di kawasan Ciumbuleuit, Bandung.
Acara ini menjadi panggung bagi siswa dari berbagai jenjang, mulai dari jenjang Early Childhood hingga Sekolah Menengah, untuk menampilkan karya seni, budaya, dan proyek pembelajaran yang telah mereka kerjakan sepanjang semester. Lebih dari sekadar pentas seni, Playground of Nusa Nipa menjadi simbol kebhinekaan, inklusivitas, dan semangat gotong royong dalam dunia pendidikan.
Kenapa “Nusa Nipa”? Simbol Keindahan dan Keberagaman
Nama “Nusa Nipa” diambil dari sebutan lain untuk Pulau Flores dalam bahasa lokal, yang berarti “Pulau Ular.” Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Menurut penyelenggara, Nusa Nipa melambangkan kekayaan budaya Nusantara, serta ketangguhan dan keindahan yang menjadi nilai utama dalam setiap proses belajar di Sekolah Cikal.
“Kami ingin siswa mengenal dan mencintai budaya Indonesia melalui pengalaman nyata. Playground of Nusa Nipa adalah ruang bermain sekaligus ruang refleksi atas identitas bangsa,” jelas Mira Sari, Kepala Sekolah Cikal Bandung.
Ragam Penampilan dan Proyek Murid
Acara diisi dengan beragam kegiatan yang menggambarkan semangat kolaboratif dan multidisipliner:
- Pertunjukan Tari Daerah: Seperti Tari Saman, Tari Jaipong, dan Tari Caci khas Nusa Tenggara Timur
- Pentas Musik Tradisional & Modern: Perpaduan angklung, kolintang, dan alat musik kontemporer
- Pameran Proyek Murid (Student Exhibition): Mulai dari lukisan budaya, hasil riset tentang suku-suku Indonesia, hingga karya 3D bertema ekologi
- Drama Bahasa Inggris & Indonesia: Mengangkat cerita rakyat seperti Malin Kundang dan Legenda Danau Toba
Para siswa tak hanya tampil, tetapi juga mengkurasi, mempersiapkan, dan menjelaskan makna dari setiap karya mereka kepada pengunjung—membiasakan mereka untuk berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif.
Kehadiran Orang Tua dan Komunitas Sekolah
Lebih dari 500 pengunjung hadir dalam acara ini, terdiri dari orang tua siswa, guru, alumni, dan tamu undangan dari berbagai komunitas seni dan pendidikan. Orang tua diajak untuk tidak hanya menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam beberapa workshop budaya, seperti membuat batik cap, membatik eco-print, serta memasak makanan khas daerah bersama para siswa.
“Saya terharu melihat anak saya tampil percaya diri membacakan puisi tentang Papua. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi proses pembelajaran yang sangat berarti,” ujar salah satu orang tua murid, Dina Kartikasari.
Proses Belajar yang Terintegrasi
Di balik acara megah ini, ada proses pembelajaran panjang yang dilalui para siswa. Setiap penampilan dan karya merupakan hasil dari proyek lintas mata pelajaran yang telah dijalankan selama satu semester. Mulai dari Bahasa Indonesia, IPS, Kesenian, hingga Sains, semuanya terintegrasi dalam proyek yang menumbuhkan nilai karakter, riset, dan empati budaya.
“Kami percaya anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa terhubung dengan apa yang mereka pelajari. Budaya adalah jembatan itu,” jelas Rahmat Aulia, guru pengampu proyek siswa SMP Cikal.
Dukungan Nilai Sekolah: 5 Pilar Pendidikan Cikal
Acara ini juga mencerminkan lima nilai pendidikan yang menjadi fondasi Sekolah Cikal, yaitu:
- Personalized Learning
- Strong Character Building
- Global & Local Citizenship
- Project-Based Learning
- Parent-Teacher-Student Partnership
Kelima nilai ini hadir nyata dalam Playground of Nusa Nipa—sebuah wadah eksplorasi diri, kolaborasi, dan refleksi nilai-nilai kebudayaan Indonesia melalui pendekatan pendidikan modern.
Dokumentasi dan Jejak Digital
Panitia juga menyediakan dokumentasi digital berupa galeri foto dan video pertunjukan, yang akan dibagikan melalui platform internal sekolah dan kanal YouTube resmi Sekolah Cikal. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari praktik keterbukaan dan berbagi inspirasi antarsekolah.
Beberapa karya unggulan siswa bahkan akan dipamerkan kembali dalam pameran seni sekolah Cikal tingkat nasional yang akan diselenggarakan akhir tahun ini di Jakarta.Bandung — Sekolah Cikal Bandung kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati budaya, kreativitas, dan keberanian berekspresi. Hal ini tercermin dalam acara tahunan mereka bertajuk “Playground of Nusa Nipa”, yang digelar meriah pada Jumat, 12 Juli 2025 di area sekolah mereka di kawasan Ciumbuleuit, Bandung.
Acara ini menjadi panggung bagi siswa dari berbagai jenjang, mulai dari jenjang Early Childhood hingga Sekolah Menengah, untuk menampilkan karya seni, budaya, dan proyek pembelajaran yang telah mereka kerjakan sepanjang semester. Lebih dari sekadar pentas seni, Playground of Nusa Nipa menjadi simbol kebhinekaan, inklusivitas, dan semangat gotong royong dalam dunia pendidikan.
Kenapa “Nusa Nipa”? Simbol Keindahan dan Keberagaman
Nama “Nusa Nipa” diambil dari sebutan lain untuk Pulau Flores dalam bahasa lokal, yang berarti “Pulau Ular.” Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Menurut penyelenggara, Nusa Nipa melambangkan kekayaan budaya Nusantara, serta ketangguhan dan keindahan yang menjadi nilai utama dalam setiap proses belajar di Sekolah Cikal.
“Kami ingin siswa mengenal dan mencintai budaya Indonesia melalui pengalaman nyata. Playground of Nusa Nipa adalah ruang bermain sekaligus ruang refleksi atas identitas bangsa,” jelas Mira Sari, Kepala Sekolah Cikal Bandung.
Ragam Penampilan dan Proyek Murid
Acara diisi dengan beragam kegiatan yang menggambarkan semangat kolaboratif dan multidisipliner:
- Pertunjukan Tari Daerah: Seperti Tari Saman, Tari Jaipong, dan Tari Caci khas Nusa Tenggara Timur
- Pentas Musik Tradisional & Modern: Perpaduan angklung, kolintang, dan alat musik kontemporer
- Pameran Proyek Murid (Student Exhibition): Mulai dari lukisan budaya, hasil riset tentang suku-suku Indonesia, hingga karya 3D bertema ekologi
- Drama Bahasa Inggris & Indonesia: Mengangkat cerita rakyat seperti Malin Kundang dan Legenda Danau Toba
Para siswa tak hanya tampil, tetapi juga mengkurasi, mempersiapkan, dan menjelaskan makna dari setiap karya mereka kepada pengunjung—membiasakan mereka untuk berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif.
Kehadiran Orang Tua dan Komunitas Sekolah
Lebih dari 500 pengunjung hadir dalam acara ini, terdiri dari orang tua siswa, guru, alumni, dan tamu undangan dari berbagai komunitas seni dan pendidikan. Orang tua diajak untuk tidak hanya menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam beberapa workshop budaya, seperti membuat batik cap, membatik eco-print, serta memasak makanan khas daerah bersama para siswa.
“Saya terharu melihat anak saya tampil percaya diri membacakan puisi tentang Papua. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi proses pembelajaran yang sangat berarti,” ujar salah satu orang tua murid, Dina Kartikasari.
Proses Belajar yang Terintegrasi
Di balik acara megah ini, ada proses pembelajaran panjang yang dilalui para siswa. Setiap penampilan dan karya merupakan hasil dari proyek lintas mata pelajaran yang telah dijalankan selama satu semester. Mulai dari Bahasa Indonesia, IPS, Kesenian, hingga Sains, semuanya terintegrasi dalam proyek yang menumbuhkan nilai karakter, riset, dan empati budaya.
“Kami percaya anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa terhubung dengan apa yang mereka pelajari. Budaya adalah jembatan itu,” jelas Rahmat Aulia, guru pengampu proyek siswa SMP Cikal.
Dukungan Nilai Sekolah: 5 Pilar Pendidikan Cikal
Acara ini juga mencerminkan lima nilai pendidikan yang menjadi fondasi Sekolah Cikal, yaitu:
- Personalized Learning
- Strong Character Building
- Global & Local Citizenship
- Project-Based Learning
- Parent-Teacher-Student Partnership
Kelima nilai ini hadir nyata dalam Playground of Nusa Nipa—sebuah wadah eksplorasi diri, kolaborasi, dan refleksi nilai-nilai kebudayaan Indonesia melalui pendekatan pendidikan modern.
Dokumentasi dan Jejak Digital
Panitia juga menyediakan dokumentasi digital berupa galeri foto dan video pertunjukan, yang akan dibagikan melalui platform internal sekolah dan kanal YouTube resmi Sekolah Cikal. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari praktik keterbukaan dan berbagi inspirasi antarsekolah.
Beberapa karya unggulan siswa bahkan akan dipamerkan kembali dalam pameran seni sekolah Cikal tingkat nasional yang akan diselenggarakan akhir tahun ini di Jakarta.Bandung — Sekolah Cikal Bandung kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk siswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati budaya, kreativitas, dan keberanian berekspresi. Hal ini tercermin dalam acara tahunan mereka bertajuk “Playground of Nusa Nipa”, yang digelar meriah pada Jumat, 12 Juli 2025 di area sekolah mereka di kawasan Ciumbuleuit, Bandung.
Acara ini menjadi panggung bagi siswa dari berbagai jenjang, mulai dari jenjang Early Childhood hingga Sekolah Menengah, untuk menampilkan karya seni, budaya, dan proyek pembelajaran yang telah mereka kerjakan sepanjang semester. Lebih dari sekadar pentas seni, Playground of Nusa Nipa menjadi simbol kebhinekaan, inklusivitas, dan semangat gotong royong dalam dunia pendidikan.
Kenapa “Nusa Nipa”? Simbol Keindahan dan Keberagaman
Nama “Nusa Nipa” diambil dari sebutan lain untuk Pulau Flores dalam bahasa lokal, yang berarti “Pulau Ular.” Pemilihan nama ini bukan tanpa alasan. Menurut penyelenggara, Nusa Nipa melambangkan kekayaan budaya Nusantara, serta ketangguhan dan keindahan yang menjadi nilai utama dalam setiap proses belajar di Sekolah Cikal.
“Kami ingin siswa mengenal dan mencintai budaya Indonesia melalui pengalaman nyata. Playground of Nusa Nipa adalah ruang bermain sekaligus ruang refleksi atas identitas bangsa,” jelas Mira Sari, Kepala Sekolah Cikal Bandung.
Ragam Penampilan dan Proyek Murid
Acara diisi dengan beragam kegiatan yang menggambarkan semangat kolaboratif dan multidisipliner:
- Pertunjukan Tari Daerah: Seperti Tari Saman, Tari Jaipong, dan Tari Caci khas Nusa Tenggara Timur
- Pentas Musik Tradisional & Modern: Perpaduan angklung, kolintang, dan alat musik kontemporer
- Pameran Proyek Murid (Student Exhibition): Mulai dari lukisan budaya, hasil riset tentang suku-suku Indonesia, hingga karya 3D bertema ekologi
- Drama Bahasa Inggris & Indonesia: Mengangkat cerita rakyat seperti Malin Kundang dan Legenda Danau Toba
Para siswa tak hanya tampil, tetapi juga mengkurasi, mempersiapkan, dan menjelaskan makna dari setiap karya mereka kepada pengunjung—membiasakan mereka untuk berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif.
Kehadiran Orang Tua dan Komunitas Sekolah
Lebih dari 500 pengunjung hadir dalam acara ini, terdiri dari orang tua siswa, guru, alumni, dan tamu undangan dari berbagai komunitas seni dan pendidikan. Orang tua diajak untuk tidak hanya menonton, tetapi juga ikut terlibat dalam beberapa workshop budaya, seperti membuat batik cap, membatik eco-print, serta memasak makanan khas daerah bersama para siswa.
“Saya terharu melihat anak saya tampil percaya diri membacakan puisi tentang Papua. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi proses pembelajaran yang sangat berarti,” ujar salah satu orang tua murid, Dina Kartikasari.
Proses Belajar yang Terintegrasi
Di balik acara megah ini, ada proses pembelajaran panjang yang dilalui para siswa. Setiap penampilan dan karya merupakan hasil dari proyek lintas mata pelajaran yang telah dijalankan selama satu semester. Mulai dari Bahasa Indonesia, IPS, Kesenian, hingga Sains, semuanya terintegrasi dalam proyek yang menumbuhkan nilai karakter, riset, dan empati budaya.
“Kami percaya anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa terhubung dengan apa yang mereka pelajari. Budaya adalah jembatan itu,” jelas Rahmat Aulia, guru pengampu proyek siswa SMP Cikal.
Dukungan Nilai Sekolah: 5 Pilar Pendidikan Cikal
Acara ini juga mencerminkan lima nilai pendidikan yang menjadi fondasi Sekolah Cikal, yaitu:
- Personalized Learning
- Strong Character Building
- Global & Local Citizenship
- Project-Based Learning
- Parent-Teacher-Student Partnership
Kelima nilai ini hadir nyata dalam Playground of Nusa Nipa—sebuah wadah eksplorasi diri, kolaborasi, dan refleksi nilai-nilai kebudayaan Indonesia melalui pendekatan pendidikan modern.
Dokumentasi dan Jejak Digital
Panitia juga menyediakan dokumentasi digital berupa galeri foto dan video pertunjukan, yang akan dibagikan melalui platform internal sekolah dan kanal YouTube resmi Sekolah Cikal. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari praktik keterbukaan dan berbagi inspirasi antarsekolah.
Beberapa karya unggulan siswa bahkan akan dipamerkan kembali dalam pameran seni sekolah Cikal tingkat nasional yang akan diselenggarakan akhir tahun ini di Jakarta.
