Jakarta —
Bank Indonesia (BI) merilis laporan terbarunya terkait posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2025. Dalam laporan tersebut, BI mencatat bahwa pertumbuhan ULN Indonesia mengalami perlambatan signifikan, yang dinilai sebagai sinyal positif terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut data resmi, total ULN Indonesia per Mei 2025 tercatat sebesar US$ 397,5 miliar, atau tumbuh 1,7% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menurun dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,2% yoy. Perlambatan ini mencerminkan menurunnya permintaan pembiayaan luar negeri dari sektor publik maupun swasta.
Penurunan Dipimpin oleh Sektor Pemerintah dan Swasta
BI menyebutkan bahwa perlambatan pertumbuhan ULN berasal dari kedua sektor, baik pemerintah maupun swasta. Utang luar negeri pemerintah pada Mei 2025 tercatat sebesar US$ 193,4 miliar, dengan pertumbuhan melambat menjadi 1,2% yoy dari 1,8% pada April. Penurunan ini dipengaruhi oleh pelunasan surat utang jatuh tempo dan terbatasnya penerbitan utang baru.
Sementara itu, ULN swasta juga mencatat perlambatan menjadi 2,3% yoy, turun dari 2,9% di bulan sebelumnya. BI menyebut, pelaku usaha lebih berhati-hati dalam menambah utang luar negeri dan mulai mengandalkan pembiayaan dalam negeri sebagai sumber modal operasional dan ekspansi.
“Perlambatan ini mengindikasikan pengelolaan utang luar negeri Indonesia masih terkendali dan mendukung ketahanan sektor eksternal secara keseluruhan,” tulis BI dalam siaran persnya.
Struktur ULN Masih Sehat dan Didominasi Jangka Panjang
Meskipun terjadi perlambatan, struktur utang luar negeri Indonesia tetap dianggap sehat dan terkendali, dengan 87,5% dari total utang terdiri dari utang berjangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa profil risiko utang luar negeri Indonesia masih cukup aman dan tidak membebani likuiditas jangka pendek.
Selain itu, BI menegaskan bahwa ULN Indonesia dikelola secara hati-hati dan akuntabel. Koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter terus diperkuat guna menjaga stabilitas ekonomi makro, khususnya dalam menghadapi gejolak global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Sinyal Positif bagi Kepercayaan Investor
Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Erwan Santoso, menilai perlambatan ini sebagai sinyal positif bahwa Indonesia mulai beranjak menuju pengelolaan utang yang lebih sehat dan mandiri.
“Ini bisa meningkatkan kepercayaan investor asing, karena menunjukkan bahwa pemerintah dan swasta tidak terlalu agresif mencari pinjaman luar negeri dan lebih fokus pada stabilitas fiskal,” ujarnya.
Menurut Erwan, perlambatan ULN juga dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk lebih fleksibel dalam menjaga nilai tukar rupiah dan stabilitas moneter ke depan.
Perlambatan pertumbuhan utang luar negeri Indonesia pada Mei 2025 menjadi sinyal yang patut disambut positif. Di tengah ketidakpastian global dan dinamika pasar keuangan, langkah hati-hati pemerintah dan sektor swasta dalam mengelola utang menunjukkan arah kebijakan yang lebih stabil, berkelanjutan, dan minim risiko.
Namun demikian, BI dan pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pembiayaan dan risiko eksternal, serta memastikan bahwa utang yang diambil tetap produktif dan mendukung pembangunan nasional.
