Jakarta, Harianjabar.com — Benjolan pada kelenjar tiroid selama ini kerap diasosiasikan dengan tindakan operasi. Namun, seiring perkembangan teknologi medis, sejumlah metode non-bedah kini terbukti mampu menangani kasus tersebut secara efektif, aman, dan minim risiko.
Pakar endokrin dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dr. Irma Suryani, SpPD-KEMD, menyatakan bahwa tidak semua benjolan tiroid membutuhkan tindakan operasi. Menurutnya, penanganan bisa disesuaikan berdasarkan ukuran, sifat jinak atau ganasnya benjolan, serta dampaknya terhadap fungsi tubuh.
“Sebagian besar benjolan tiroid bersifat jinak dan tidak membahayakan. Selama tidak mengganggu fungsi tiroid atau menimbulkan gejala serius, tindakan bedah sering kali tidak diperlukan,” ujarnya dalam seminar kesehatan, Senin (29/7).
www.service-ac.id
Solusi Non-Bedah: Dari Pengawasan Ketat hingga Terapi Ablasi
Saat ini, terdapat beberapa alternatif penanganan benjolan tiroid tanpa operasi, antara lain:
- Pengawasan Berkala (Watchful Waiting):
Digunakan untuk nodul tiroid jinak yang kecil dan tidak menunjukkan gejala. Dokter akan memantau perubahan ukuran dan gejala melalui pemeriksaan USG dan tes darah secara rutin. - Terapi Hormon Tiroid:
Digunakan untuk menghambat pertumbuhan benjolan dengan menstabilkan kadar hormon tiroid. Terapi ini dilakukan dengan pengawasan medis ketat. - Ethanol Ablation (EA):
Prosedur menyuntikkan alkohol steril ke dalam benjolan untuk mengecilkannya. Cocok untuk nodul jinak berisi cairan (kista). - Radiofrequency Ablation (RFA):
Teknologi termal minimal invasif yang menggunakan gelombang radio untuk menghancurkan jaringan benjolan. RFA dilakukan tanpa pembedahan dan hanya memerlukan bius lokal.
“RFA menjadi salah satu pilihan utama karena minim nyeri, tidak memerlukan rawat inap, dan hasilnya bisa terlihat dalam beberapa minggu,” jelas dr. Irma.
Pentingnya Diagnosis Dini
Masyarakat diimbau tidak mengabaikan keberadaan benjolan di leher, terutama jika mengalami gejala seperti suara serak, sulit menelan, atau perubahan bentuk leher. Pemeriksaan awal melalui USG dan biopsi aspirasi jarum halus (FNAB) sangat penting untuk memastikan diagnosis dan menentukan rencana pengobatan.
“Diagnosis dini akan sangat membantu menentukan apakah nodul berbahaya atau tidak. Jangan langsung panik dan berpikir operasi adalah satu-satunya jalan,” tambahnya.
Harapan Baru bagi Pasien
Dengan ketersediaan metode terapi non-bedah yang semakin berkembang di Indonesia, pasien kini memiliki lebih banyak pilihan pengobatan yang tidak menimbulkan trauma fisik dan mental sebagaimana operasi konvensional.
Tenaga medis berharap masyarakat lebih terbuka terhadap pemeriksaan tiroid secara berkala, terutama bagi wanita usia 30 tahun ke atas, kelompok yang paling rentan mengalami gangguan tiroid.
