Bekasi, HarianJabar.com – Peta geopolitik Timur Tengah kembali mengalami perubahan besar. Amerika Serikat (AS), melalui Departemen Luar Negeri, secara resmi menghapus nama Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dari daftar hitam terorisme pada Jumat (7/11/2025). Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat rekonsiliasi politik dan pembukaan babak baru hubungan diplomatik antara Washington dan Damaskus.
Keputusan tersebut disampaikan secara resmi oleh Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigot, dalam konferensi pers di Washington DC. Ia menegaskan bahwa tindakan ini merupakan pengakuan atas kemajuan signifikan yang telah ditunjukkan oleh pemerintahan baru Suriah setelah kejatuhan rezim Bashar al-Assad.
“Tindakan ini diambil sebagai bentuk pengakuan atas langkah konkret yang telah dilakukan kepemimpinan Suriah dalam membangun stabilitas dan menegakkan tanggung jawab setelah lebih dari lima dekade penindasan di bawah rezim Assad,” ujar Pigot, dikutip dari AFP.
Langkah penghapusan nama Ahmed al-Sharaa dari daftar terorisme bukanlah keputusan yang berdiri sendiri. Sehari sebelumnya, AS juga memimpin pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB yang berujung pada pencabutan sanksi internasional terhadap Suriah. Dua langkah beruntun ini menunjukkan adanya perubahan arah kebijakan luar negeri AS terhadap kawasan Timur Tengah yang lebih pragmatis dan adaptif terhadap realitas baru di lapangan.
Menurut sumber diplomatik di Washington, keputusan tersebut diambil setelah pemerintahan al-Sharaa memenuhi dua syarat utama yang diajukan oleh AS. Pertama, upaya aktif dalam mencari warga negara AS yang hilang di Suriah sejak perang saudara berkecamuk. Kedua, komitmen untuk memusnahkan seluruh sisa senjata kimia yang masih tersisa di wilayah Suriah.
Pemenuhan dua syarat itu menjadi kunci utama bagi normalisasi hubungan antara kedua negara, sekaligus membuka jalan bagi bantuan internasional untuk rekonstruksi Suriah pascakonflik.
Ahmed al-Sharaa, yang naik ke tampuk kekuasaan hampir setahun lalu melalui operasi militer kilat dengan dukungan dari Turki dan sejumlah negara Teluk, dinilai berhasil mengubah peta politik Suriah secara mendasar. Pemerintahannya berusaha menghapus jejak rezim lama dan membuka komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan Barat.

Kini, perhatian dunia tertuju pada kunjungan bersejarah Ahmed al-Sharaa ke Gedung Putih yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (10/11/2025). Pertemuan tersebut akan menjadi simbol penting bagi upaya rekonsiliasi diplomatik antara dua negara yang selama lebih dari satu dekade saling berhadapan di medan politik dan militer.
Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya menyambut langkah tersebut dengan positif. Ia menyebut penghapusan nama Ahmed al-Sharaa dari daftar teroris sebagai awal dari “kemitraan baru” antara Washington dan Damaskus. Trump juga berjanji akan mendukung Suriah dalam proses rekonstruksi nasional yang mencakup pembangunan infrastruktur, pemulihan ekonomi, dan stabilisasi politik.
“Suriah yang baru berhak mendapatkan kesempatan untuk bangkit kembali. Kami siap bekerja sama dengan pemerintahan al-Sharaa dalam membangun masa depan yang damai dan stabil bagi rakyatnya,” ujar Trump dalam pernyataannya di Gedung Putih.
Penghapusan nama Ahmed al-Sharaa dari daftar hitam AS sekaligus menandai berakhirnya masa isolasi diplomatik Suriah di mata Washington. Langkah ini dinilai banyak pihak sebagai titik balik dalam sejarah hubungan AS–Suriah serta menjadi indikator penting perubahan peta kekuatan di Timur Tengah pasca-kejatuhan rezim Assad.
Para analis menilai, keputusan ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral, tetapi juga pada dinamika regional yang lebih luas, terutama dalam konteks persaingan pengaruh antara AS, Rusia, dan Iran. Dengan rekonsiliasi ini, Suriah berpotensi kembali menjadi aktor strategis yang diperhitungkan dalam percaturan geopolitik kawasan.
Dengan segala implikasinya, kebijakan baru AS ini membuka babak baru dalam diplomasi global dan mempertegas bahwa peta politik Timur Tengah masih terus bergerak dinamis seiring perubahan kekuatan di panggung internasional.
