Bekasi, HarianJabar.com – Chandra Lie merupakan pendiri sekaligus pemimpin maskapai Sriwijaya Air, salah satu perusahaan penerbangan besar di Indonesia. Namanya semakin dikenal publik setelah tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta–Pontianak pada 9 Januari 2021 di perairan Kepulauan Seribu. Meski diterpa ujian berat, Chandra tetap menjadi sosok pengusaha yang dikenal gigih, rendah hati, dan memiliki kontribusi besar terhadap dunia aviasi nasional.
Chandra Lie lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, pada 4 April 1965. Ia adalah anak dari pasangan Subakat Lie dan tumbuh besar bersama saudaranya, Hendry Lie. Sejak SMP, Chandra telah menunjukan tekad kuat untuk mengejar masa depan yang lebih baik. Setelah lulus SMP, ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan SMA sambil bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari.
Awalnya, impian Chandra cukup sederhana. Ia ingin menjadi guru olahraga atau pengacara. Setelah lulus SMA, Chandra mengikuti seleksi masuk Universitas Indonesia, namun tidak berhasil dalam tes. Kegagalan ini tidak membuatnya berhenti melangkah. Sebaliknya, Chandra memilih untuk membangun usaha sendiri di bidang garmen.
Dengan modal terbatas, Chandra memulai usaha konveksi kecil yang hanya memiliki tujuh mesin jahit. Berkat kerja keras dan kemampuan manajerialnya, bisnis tersebut tumbuh menjadi perusahaan konveksi dengan lebih dari 150 mesin dan puluhan karyawan. Usaha inilah yang menjadi modal awal kesuksesan Chandra di masa depan.
Ide mendirikan maskapai penerbangan muncul ketika ia mengalami kesulitan pulang ke kampung halamannya. Perjalanan laut dari Jakarta ke Bangka Belitung memakan waktu 11 jam dan sering terhambat kondisi cuaca. Dari pengalaman itu, Chandra menyadari pentingnya transportasi udara yang cepat dan efisien, terutama bagi masyarakat di daerah kepulauan.
Pada tahun 2000, Chandra Lie bersama saudaranya Hendry Lie serta dua rekannya, Johanes B dan Andy Halim, mulai mengurus izin pendirian maskapai penerbangan. Prosesnya panjang dan rumit, memakan waktu tiga tahun hingga akhirnya Sriwijaya Air resmi berdiri pada 28 April 2003. Izin terbang diperoleh pada 28 Oktober 2003, dan pada 10 November tahun itu, Sriwijaya Air melakukan penerbangan perdana menggunakan satu armada Boeing 737-200.

Seiring berjalannya waktu, Sriwijaya Air berkembang menjadi salah satu maskapai terbesar di Indonesia. Dari hanya satu pesawat, armadanya berkembang menjadi puluhan pesawat Boeing dan melayani lebih dari 50 rute penerbangan domestik maupun regional. Untuk memperluas jangkauan, Chandra mendirikan NAM Air sebagai maskapai feeder yang melayani wilayah dengan kebutuhan rute lebih kecil. Selain itu, ia juga mendirikan NAM Flying School untuk mencetak pilot dan tenaga penerbangan profesional di Indonesia.
Meski mengalami perkembangan pesat, perjalanan Sriwijaya Air tidak selalu mulus. Pada 9 Januari 2021, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 mengalami kecelakaan fatal yang menewaskan 62 orang, terdiri dari 50 penumpang dan 12 kru. Insiden ini menjadi ujian terberat dalam karier Chandra Lie. Meski demikian, Chandra menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung keluarga korban, memastikan kelancaran investigasi, serta meningkatkan standar keselamatan penerbangan perusahaan.
Selain dikenal sebagai pengusaha visioner, Chandra Lie juga memiliki sejumlah pencapaian dan fakta menarik. Kariernya yang dimulai dari tujuh mesin jahit hingga menjadi pemilik maskapai nasional menunjukkan kegigihannya dalam membangun usaha dari nol. Ia juga tidak mudah menyerah—kegagalan masuk UI menjadi titik balik yang justru membawanya ke dunia wirausaha. Melalui NAM Flying School, ia turut berperan mencetak pilot-pilot muda berkompeten di Indonesia. Atas inovasi dan semangat kewirausahaannya, Chandra pernah dianugerahi Entrepreneurial Spirit Award dari Ernst & Young.
Kisah hidup Chandra Lie menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang ingin membangun bisnis dari bawah. Dari perjalanan panjangnya, terlihat bahwa keberanian, ketekunan, dan visi besar dapat membawa seseorang menembus batas, bahkan hingga mendirikan sebuah maskapai penerbangan nasional.
