Bekasi, HarianJabar.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkap tiga faktor utama yang membuat sektor swasta masih enggan berinvestasi dalam riset dan inovasi di Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam Antara Business Forum di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Menurut Stella, hambatan tersebut meliputi regulasi yang belum mendukung ekosistem inovasi, ketiadaan sistem informasi kolaborasi riset, serta minimnya tenaga ahli yang siap bekerja di industri berbasis teknologi tinggi.
1. Regulasi Belum Menguntungkan Peneliti
Stella menilai aturan riset saat ini tidak memberi insentif yang memadai bagi para peneliti. Salah satunya, peneliti tidak diperbolehkan menerima insentif pribadi ketika memenangkan hibah penelitian. Kondisi itu dinilai membuat riset di Indonesia kurang kompetitif dibanding negara-negara maju.
“Peneliti di Indonesia tidak diperkenankan mendapatkan insentif langsung jika mereka memenangkan grant riset. Padahal di negara lain, sistemnya begitu,” tegasnya.
Ia menambahkan, tanpa insentif, peneliti cenderung lebih fokus mengajar atau melakukan penelitian minimal yang tidak menuntut kualitas tinggi. Kemdiktisaintek kini tengah menyiapkan revisi regulasi agar peneliti dapat memperoleh insentif pribadi dari pendanaan riset.

2. Minimnya Sistem Informasi Kolaborasi Riset
Faktor kedua adalah belum adanya peta riset nasional yang mampu mempertemukan kebutuhan industri, pemerintah daerah, lembaga negara, dan perguruan tinggi. Ketidaksinkronan ini membuat kerja sama riset sulit terwujud.
Untuk menjawab masalah tersebut, Kemdiktisaintek membangun dashboard informasi nasional yang berisi data peneliti, kompetensi, hasil riset, hingga daftar kebutuhan riset dari berbagai daerah.
“Jika Anda membutuhkan pakar untuk menyelesaikan masalah bisnis atau sosial, dashboard ini memungkinkan Anda mencari siapa ahli yang tepat,” jelas Stella.
3. Keterbatasan Tenaga Ahli Terlatih
Hambatan ketiga adalah kurangnya tenaga kerja ahli yang siap masuk industri berbasis teknologi tinggi. Kesenjangan keterampilan antara lulusan pendidikan tinggi dan kebutuhan industri masih cukup besar.
Pemerintah kini memperluas kerja sama internasional untuk menyediakan pendidikan teknologi yang lebih maju. Salah satunya melalui kemitraan dengan China, di mana lebih dari 12 ribu mahasiswa Indonesia di Provinsi Jiangsu tengah ditempa untuk menjadi tenaga ahli ketika kembali ke Indonesia.
“Kita bisa bekerja sama antara universitas dan industri untuk menghasilkan inovasi sekaligus menyediakan labor supply yang mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Stella.
Dengan perbaikan regulasi, pembangunan sistem kolaborasi riset, dan penguatan sumber daya manusia, pemerintah berharap ekosistem riset Indonesia semakin menarik bagi investasi swasta dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi.
