
Bekasi, Harianjabar.com — Penguatan etos kerja guru kembali menjadi sorotan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan nasional. Global Persada Mandiri (GPM) menegaskan pentingnya pembangunan budaya kerja pendidik berbasis kesadaran nilai melalui konsep Sepaham, Sepakat, dan Sejalan (3S), sebagai fondasi peningkatan kualitas layanan pendidikan di sekolah.
Isu etos kerja guru dinilai krusial di tengah tantangan pendidikan nasional, mulai dari kesenjangan mutu antarwilayah hingga tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui Seminar Refleksi Guru lintas jenjang SMP, SMA, dan SMK yang digelar di Bekasi, Senin (22/12/2025), GPM mendorong internalisasi nilai kerja yang tidak sekadar administratif, tetapi berorientasi pada tanggung jawab profesi.
Direktur GPM, Subhan, M.Pd., menyampaikan bahwa sekolah tidak dapat bergantung hanya pada regulasi dan sistem, tanpa diiringi kesadaran kolektif para pendidik. Menurutnya, etos kerja guru merupakan penentu utama arah dan kualitas pendidikan.
“Sekolah yang kuat bukan karena semua orang hebat, tetapi karena semua orang berjalan di arah yang sama. Etos kerja tidak cukup dibangun dari aturan, tetapi dari kesadaran peran sebagai pendidik,” ujar Subhan.
Ia menjelaskan, konsep 3S dirancang untuk menyatukan cara pandang (sepaham), memperkuat komitmen profesional (sepakat), serta memastikan konsistensi dalam tindakan (sejalan). Pendekatan ini disebut sebagai Conscious Work Ethos in Education, yakni etos kerja yang lahir dari kesadaran nilai dan dampak jangka panjang pendidikan.
Sementara itu, praktisi pendidikan Iman Safari, M.Pd., menilai bahwa tantangan pendidikan nasional saat ini tidak selalu terletak pada keterbatasan fasilitas, melainkan pada kualitas dan konsistensi sumber daya manusia di sekolah. Ia menegaskan bahwa etos kerja guru berpengaruh langsung terhadap kualitas pembelajaran dan iklim pendidikan.
“Etos kerja bukan soal sibuk, tetapi soal kualitas kontribusi. Dedikasi, integritas, dan konsistensi guru sangat menentukan mutu pendidikan, bahkan lebih penting dari kelengkapan fasilitas,” kata Iman.
Diskusi reflektif yang dipandu oleh Maria Atik, M.Pd., menggarisbawahi pentingnya penerjemahan nilai etos kerja ke dalam praktik mengajar sehari-hari. Forum ini mendorong guru tidak hanya memahami konsep, tetapi menjadikannya kebiasaan profesional yang berdampak langsung bagi peserta didik.
GPM berharap pendekatan penguatan etos kerja berbasis nilai dapat menjadi referensi dalam pengembangan budaya kerja guru di berbagai daerah. Dengan etos kerja yang terbangun secara sadar dan kolektif, peningkatan kualitas pendidikan diharapkan tidak berhenti pada kebijakan, tetapi benar-benar dirasakan oleh siswa, orang tua, dan masyarakat luas.
